Monday, 25 May 2015

Pop, Sex and Theology (Journey Begins)

Teologi dan Budaya Populer
Seksualitas Media dalam Serial Sex and the City


I.                  Sekilas Sex and the City
Sekitar tahun 2000, sebuah saluran tv kabel Amerika Serikat, yang terkenal sering menayangkan dan memroduksi film-film serial maupun lepas yang fenomenal, yaitu HBO (Home Box Office), yang diangkat dari sebuah buku yang berjudul sama ditulis oleh Candace Bushnell, merupakan olahan dari kolom yang ditulisnya di koran New York Observer terinspirasi percakapan antara dirinya dengan sahabat-sahabatnya para wanita karir lajang di New York. Dalam kata pengantar yang ditulis Bushnell Sex and the City merupakan hasil dari “spent hours discussing our crazy relationships, and came to the conclusion that if we couldn't laugh about them, we'd probably go insane. I suppose that's why Sex and the City is such an unsentimental examination of relationships and mating habits.”[1]
Stasiun tv kabel ini bekerja sama dengan Paramount; menayangkan sebuah kisah mengenai persahabatan empat orang perempuan muda lajang di kota megapolitan. “Sex and the City focuses on a group of women, each of whom represents an archetype of contemporary womanhood.”[2] Mereka me-representasikan gambaran perempuan yang dinamis, mandiri, memiliki karier yang mapan, cantik, berani, serta tidak takut untuk membicarakan seks, yang bahkan di Amerika Serikat masih dianggap tabu (private matters). Empat orang perempuan muda berusia 30-an ini adalah Carrie Bradshaw (diperankan oleh Sarah Jessica Parker) seorang penulis kolom, PR executive dan sexual libertine Samantha Jones (Kim Cattrall), pengacara korporat and relationship cynic Miranda Hobbes (Cynthia Nixon) serta menejer galeri seni dan romantic optimist Charlotte York (Kristin Davis). Penayangan serial ini bertahan hingga musim tayang ke-enam dan beberapa tahun yang lalu di buatlah film layar lebar dari serial ini karena permintaan pasar yang masih tinggi terhadap ending kisah ini.
Pada episode perdana musim tayangnya yang pertama, dibuka dengan argumen bahwa perempuan pun dapat melakukan hubungan seks tanpa perasaan seperti laki-laki, “Can women have sex like a man?” dengan semangat seperti itu Carrie selalu membawa beberapa bungkus kondom dalam tasnya. Tetapi dia bertabrakan tidak sengaja dengan seorang laki-laki, kemudian dikenal dengan Mister Big, yang mengakibatkan semua isi tasnya berserakan di jalan, tetap ada perasaan rikuh Carrie ketika laki-laki itu tersenyum dengan ekspresi heran namun terhibur. Sex and the City mem-populerkan atau dapat dikatakan mengemas sebagian muatan feminisme dalam kemasan cantik bernama budaya populer. Dalam episode ke 5 di musim tayang ke-dua, banyak kritik-kritik tajam yang dilontarkan dalam dialog antar pemeran yang mengkritik kehidupan mereka sebagai perempuan. Ketika Carrie sedang mengalami fase putus cinta dan Miranda memrotes mengapa mereka sebagai empat perempuan intelek hanya membicarakan masalah laki-laki dan pacar saja, yang seringkali terjadi dalam perbincangan antara sahabat perempuan sebagai topik yang paling seru.
Bagaimana dengan Indonesia sebagai pengkonsumsi produk populer yang satu ini? Sex and the City sempat di tayangkan di Indonesia hingga musim tayang ke-tiga, di sebuah stasiun tv swasta setiap hari Jumat malam menjelang tengah malam. Banyak perempuan pekerja di jajaran menengah hingga atas maupun mahasiswi yang menanti-nantikan jam siar tayangan ini. Bahkan sebuah produk susu pelangsing membuat jingle iklan yang mirip dengan jingle serial ini. Citra yang dipresentasikan oleh para pemerannya berhasil memikat hati banyak perempuan, yang bukan hanya di Amerika Serikat, tetapi nampaknya hampir di seluruh negara yang menayangkan serial ini, bahkan membuat kelompok seperti para tokohnya dan klub menonton bersama Sex and the City. Tayangan ini juga mendapat perhatian dari the talkshow queen di Amerika Serikat yang sempat mengulas tayangan ini beberapa tahun lewat.
Pada dasarnya film ini masih memiliki aura cinderella syndrom namun dikemas dalam package yang lebih menarik dengan lapisan feminisme. Namun dapat terlihat dalam kisah cinta antara si tokoh utama Carrie Bradshaw, seorang penulis kolom seks di koran New York Observer, dengan seorang pria yang dipanggilnya Mister Big. Dia adalah seorang pria mapan sukses yang menduda berumur 40-an, seorang pengusaha yang egois dalam menjalin hubungan dengan Carrie. Seperti lagu yang dipopulerkan oleh kelompok vokal BBB, “putus nyambung” demikian juga kisah cinta antara Carrie dan Mister Big dalam serial ini. Di era post-modern atau mungkin post-feminist ini, ternyata banyak perempuan yang masih belum dapat melepaskan diri dari cinderella syndrom dalam kemasan yang serba glamour dan sangat populer. Though eventually, Mister Big melamar Carrie dan they live happily ever after, setidaknya demikian dalam Sex and the City The Movie yang pertama, yang sebentar lagi akan release sequelnya.
  1. II.               Observasi
Fenomena serial ini cukup terasa hingga ke Indonesia, meskipun setelah musim tayang ketiga serial ini tidak lagi ditayangkan di Indonesia. Namun toh tidak menghambat keinginan para penggemarnya untuk tetap meneruskan menonton dengan membeli kepingan dvd di Mangga dua, Glodok, atau ITC Ambassador. Perempuan muda banyak yang merasa gambaran dirinya sebagian diwakilkan oleh ke-empat tokoh perempuan ini. Bagaimana perempuan-perempuan ini terbuka pada seksualitasnya di tengah dunia kerja yang banyak di dominasi laki-laki.
Keterbukaan dan pengakuan bahwa perempuan adalah makhluk seksual tertutup oleh lapisan kewajiban yang mengiringinya. Misalnya seorang perempuan “baik-baik” lebih banyak tinggal di rumah atau ahli mengerjakan tugas-tugas domestik. Bilamana perempuan bekerja di luar rumah, maka ketika tiba di rumah diharapkan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah. Tidak demikian dengan laki-laki, mungkin inilah yang disebut sebagai standar ganda. Perempuan sebagai “super woman” atau “wonder woman” yang sebaik-baiknya memenuhi “ekspetasi” sebagai wanita karir yang cemerlang dan jika dia seorang istri ditambah sebagai istri yang penuh pengabdian pada keluarga dengan mengerjakan semua tugas-tugas rumah setelah bekerja seharian di kantor.
Serial ini banyak mengangkat isu-isu seksual, bukan hanya preferensi maupun “fetishes” tetapi juga hal-hal seperti kesehatan organ reproduksi, penggunaan “sex toys”, serial ini yang pertama kali mengulas kesemuanya ini, bahkan di negara pemroduksinya sendiri serial ini fenomenal, seperti yang dikutip dari Akas dan McCabe dari Holden “’Topics thrashed out during the gabfests over the six seasons range from anal sex and female ejaculation to vibrators, cunnilingus, abortion, infertility and sexually transmitted diseases. ‘Never in an American film or TV series has sophisticated girl talk been more explicit, with every kink and sexual twitch of the urban mating game noted and wittily dissected.’”[3]
Tentu saja muatan dalam hal mengenal dengan seksualitas tidaklah seperti apa yang ditampilkan dalam media, ataupun seperti Sex and the City, karena konteks budaya Indonesia yang berbeda, dan mungkin hanya sebagian kecil kalangan saja yang memiliki gaya hidup mendekati ke-empat karakter tersebut diatas. Umat Kristen, atau sebagian dari umat Kristen, masih tertutup dalam hal seksualitas dan ngeri mendengar kata feminisme. Namun tidak diragukan lagi pengaruh budaya populer dalam serial ini memiliki paling tidak sedikit pengaruh dalam gaya hidup perempuan berusia 30-an, “In many ways, Sex and the City has functioned as a forum about women’s sexuality as it has been shaped by the feminist movement of the last 30 years.”[4] Jika dapat dikatakan bahwa serial Sex and The City merupakan bentuk populer dari gerakan feminisme (ataukah kritikannya?). Meski masih dengan bumbu-bumbu romantika ala sinderela yang sangat khas Hollywood. Memang bukan tugas media untuk memberikan nilai-nilai moral sebagai bagian dari tayangan hiburan, dan inilah yang sebenarnya menjadi tugas komunitas, yang bisa juga memanfaatkan media.
Bagaimana dengan Tuhan? Bagaimanakah gambaran Tuhan dalam serial ini? Hanya ada satu karakter yang dikisahkan memiliki semacam religiusitas, yaitu Charlotte York. Sedangkan yang lain seperti Carrie dikatakan seorang Agnostik dan 2 yang lain sebagai Atheis. Dalam episode 7  di musim tayang pertama, dikisahkan Carrie pertama kali menginjak kaki di gereja karena ingin bertemu dengan ibu dari kekasihnya, yang Atheis, saat itu dengan menyeret salah seorang sahabatnya yang juga Atheis, dan berkata “All this ladies in church, wearing hundreds worth of hat and straight to cocktail.” Kegusaran Carrie ditanggapi oleh Mister Big yang dengan santai menjelaskan mengapa dia tidak mengajak Carrie menemui ibunya di gereja “I only go to church to see my mom, not more than that. If it’s important to you to see my mother, i’ll take you to her home.” Terlihat bahwa gereja dalam film ini merupakan sebuah tempat yang sangat terpisah dari kehidupan sekitar namun kemudian dalam kehidupan sehari.
Carrie bahkan membuat lelucon mengenai Charlotte yang dikatakan religius, ketika dia sedang melakukan hubungan intim yang memuaskan sebanyak 7 kali dan berteriak “GOD” saat mencapainya, musim tayang kedua episode 5 “And there that Friday, she met God 7 times, that’s quite a lot for a religious person.” Dalam hal ini, Carrie memarafrasekan kepopuleran suatu anggapan dalam kebudayaan Hindu bahwa energi tertinggi adalah ketika mencapai kepuasan dalam berhubungan intim, seolah begitu dekat dengan Tuhan, atau orang Prancis mengungkapkannya dalam frase “La petite morte.”[5]
Jelas sekali bahwa Carrie dan kawan-kawan hidup dalam dunia yang sangat terpisah dari religiusitas. Tetapi sepanjang pertengahan musim tayang ke-5 hingga akhir dari musim tayang ke-6, nampak nilai religiusitas mulai dimunculkan. Yaitu ketika Charlotte memutuskan hendak menikah dengan Harry Goldenblatt, pengacara perceraiannya, yang seorang Yahudi. Charlotte berusaha memertahankan her religious view sebagai seorang episkopalian, tetapi terbuka untuk belajar agama Yahudi. Akhirnya Charlotte di baptis menjadi seorang Yahudi, setelah sebelumnya mengadakan pesta perpisahan dengan imannya dengan cara memasang pohon natal lengkap dengan segenap perlengkapannya di bulan Juni. Charlotte meraih hidup baru yang lebih baik dengan seorang suami dan religiusitas yang baru, bahkan Charlotte menguatkan iman suaminya.
Melihat hal ini, menurut saya dalam pandangan sekelompok masyarakat bahwa Kekristenan mulai berkurang nilai jualnya. Sedangkan agama-agama Timur lain justru sedang mengalami revival. Salah satu episode yang lain ke-empat sahabat ini berbondong-bondong memelajari spiritualitas timur Tantrik. Dalam masyarakat posmo, keunikan spiritualitaslah yang dicari, namun Kekristenan justru berusaha menyeragamkan “spiritualitas”. Ini mengingatkan saya pada film Chocolat yang diputar di kelas pada satu kesempatan. Aturan-aturan gereja yang terkadang diberlakukan begitu baku sehingga satu unsur yang paling penting dalam Kekristenan tersingkirkan, kasih. Di Prancis sendiri begitu banyak bangunan gereja yang megah dan indah, sebuah karya seni tetapi ditinggalkan oleh “gereja”nya dan menjadi diskotik atau museum, dan jika beruntung menjadi Masjid. Orang-orang Kristen di Prancis beribadah pada ilmu pengetahuan dan politik ataupun kebudayaan itu sendiri. Toh, bagi sebagian masyarakat Eropa, agama merupakan kebudayaan. Saya rasa hal ini masih jauh terjadi di Indonesia, tetapi kemungkinan akan selalu ada.
Perkembangan media (baik elektronik maupun internet) berkembang sangat pesat serta memiliki pengaruh yang cukup besar dalam masyarakat, pendapat Meyrowitz yang ditulis oleh Lynch, bahwa dunia tidak lagi dibentuk hanya dengan ide-ide, tradisi-tradisi, serta kebiasaan-kebiasaan yang penting dalam komunitas lokal mereka. Hal ini dapat mengarah pada longgarnya perilaku yang sebelumnya memiliki keyakinan mengenai ketertantangan dunia atau termodifikasi dalam terang ide-ide dari kebudayaan lain.[6] Masyarakat Indonesia, atau lebih tepatnya penduduk di kota-kota besar yang memiliki tingkat interaksi antar kebudayaan tinggi seperti Jakarta, Surabaya, Jogja, Medan, juga memiliki tingkat “melek media” yang tinggi. Karena interaksi antar kebudayaan yang tinggi serta kesadaran bahwa dunia berubah dari tradisi lokal ketika dmereka dibesarkan dan sekarang bergeser ke arah kebudayaan yang harus beradapatasi dengan kebudayaan lain dengan virtues yang berbeda, menciptakan kebudayaan hybrid yang berusaha untuk mengakomodasi perubahan pola perilaku serta kebiasaan yang mulai berubah.
Tren menjadi agama baru dalam masyarakat yang harus di ikuti jika tidak ingin dibilang kolot atau ndeso. Tidak hanya dalam hal pakaian, tetapi juga kesehatan, gaya hidup serta filosofinya. Dalam rangka mencari keunikan identitas dan cara peng-ekspresiannya yang ter-representasikan dari cara berbicara, gaya hidup, bahkan berpakaian yang kerap mengarah pada peng-eksklusifan kelompok. Seperti komunitas punk rock, komunitas indie, dan lainnya yang pada dasarnya mengusung slogan anti kemapanan dan sekarang menjadi begitu populer di generasi muda.
Sedangkan generasi yuppies,[7] justru semakin mencari keamanan dalam hal materi dan bergelut dalam ketidak amanan spritual yang mendorong ke arah pencarian spiritual yang dapat mem fasilitasi kehidupan mereka. Sehingga seringkali terjebak dalam spirituality cafetaria, dengan munculnya banyak gerakan-gerakan spiritualitas seperti Kabalah (dipopulerkan oleh Madonna), Scientology (dipopulerkan oleh Tom Cruise, Nicholas Cage dan John Travolta), Buddha (di populerkan oleh richard Gere) diskusi-diskusi mengenai berbagai dimensi teologi serta spiritualitas Islam pun saat ini tengah marak diselenggarakan di Eropa dan Amerika.

  1. III.           Penutup
Bila kita melihat saat ini, gaya hidup generasi yuppies, yang mengaku begitu banyak dipengaruhi oleh posmodernisme dan bagi kaum perempuan feminisme menjadi gaya hidup. Kesetaraan dalam hal ini bukan lagi hanya masalah politik ataupun HAM, tetapi juga kesetaraan dalam hal seksualitasnya, yang menurut saya merupakan HAM. Banyak kaum pekerja perempuan di Indonesia apalagi mereka yang sudah mengenyam bangku pendidikan tinggi dan pendidikan tinggi lanjut baik di dalam maupun di luar negeri, memiliki gaya hidup yang mungkin dua puluh tahun lalu menjadi skandal dan bisa dibuang dari masyarakat, apalagi keluarga.
Kebebasan dalam memilih pasangan yang sesuai dengan kriteria merupakan privilege yang saat ini tidak hanya di miliki oleh kaum laki-laki. Bahkan banyak perempuan menyukai kebebasan dalam memilih pasangannya. Jika dalam novel Pramudya Ananta Toer yang berjudul Gadis Pantai, perempuan dari kalangan yang lebih rendah dapat dijadikan sebagai istri percobaan dari golongan priyayi, supaya bila saatnya si laki-laki priyayi ini menikah dengan perempuan priyayi dapat menjadi suami yang baik. Maka di Indonesia saat ini, setidaknya di kelompok pendidikan tertentu, perempuan-perempuan yang berpendidikan melakukan perjalanan mencari cinta dengan lebih ekspresif, menjadi yang memilih, tidak lagi pasif serta menunggu untuk dipilih.
Banyak aliran fundamentalis bergerak ke arah sebaliknya, jargon-jargon mengenai tugas dan kewajiban perempuan yang adalah harus tunduk pada suami sebagai imam dan kepala keluarga yang menuntut penundukan absolut perempuan, juga terhadap anak-anak. Dapat memberi gambaran bahwa Allah seperti ini menuntut penundukan absolut dari para hambaNya. Sehingga tentu istilah rekan kerja Allah menjadi tidak masuk akal, karena seorang rekan memiliki hak untuk berpendapat dan mengambil keputusan bersama. Juga, jika Allah menciptakan laki-laki dan perempuan mengapa hanya laki-laki yang diberi begitu banyak perhatian dari Allah?
Perlunya penggambaran Allah yang lebih down to earth menjadi kebutuhan yang harus segera di jawab dalam pergumulan gereja. Allah yang memahami keunikan setiap pribadi dalam gejolak budaya populer yang semakin merangsek ke dalam kehidupan umat Kristen, yang tidak mengalienisasi. Menghadapi gaya hidup yang mengarah pada pola konsumerisme dan hedonisme, yang bukan hanya dalam kemasan budaya populer (seperti beberapa gereja karismatik lakukan namun tetap dengan konsep fundamentalis). Saya rasa Allah juga telah siap masuk dalam kehidupan posmodern umatNya.
Inilah Allah yang hidup dalam dunia, dunia yang kompleks dengan segala permasalahannya. Sebuah Pribadi yang dinamis mengikuti gejolak warna kehidupan umatNya

Daftar Pustaka
Akass, Kim & Janet McCabe editor. Reading Sex and the City I.B.Tauris & Co Ltd 6 Salem Road, London W2 4BU 175 Fifth Avenue, New York, 2004.
Bushnell, Candace. Sex and the City New York, Warner Books dan Atlantic Monthly Press, 2001.
Henry, Astrid. “Orgasms and empowerment: Sex and the City and the third wave feminism”, dalam buku Reading Sex and the City I.B.Tauris & Co Ltd 6 Salem Road, London W2 4BU 175 Fifth Avenue, New York, 2004.
Lynch, Gordon, Understanding Theology and Popular Culture Blackwell Publishing, Oxford UK, 2006.

[1] Candace Bushnell, Sex and the City ( New York, Warner Books dan Atlantic Monthly Press, 2001), hlm. 3.
[2] Astrid Henry, “Orgasms and empowerment: Sex and the City and the third wave feminism”, dalam buku Reading Sex and the City (I.B.Tauris & Co Ltd 6 Salem Road, London W2 4BU 175 Fifth Avenue, New York, 2004), hlm. 66.
[3] Kim Akass & Janet McCabe editor, Reading Sex and the City (I.B.Tauris & Co Ltd 6 Salem Road, London W2 4BU 175 Fifth Avenue, New York, 2004), hlm. 3.
[4] Astrid Henry, “Orgasms and empowerment: ..., hlm. 66.
[5] Artinya kematian kecil.
[6] Gordon Lynch, Understanding Theology and Popular Culture (Blackwell Publishing, Oxford UK, 2006), hlm. 54.
[7] Generasi setelah baby boomers yaitu mereka yang tidak bisa hidup tanpa secangkir starbucks di waktu pagi untuk mengawali hari.

No comments:

Post a Comment