Sejarah Israel dan agama yang mereka anut terpaut dan saling mengait
tertulis dalam Perjanjian Lama, yang tema utamanya ialah peristiwa
keluarnya bangsa mereka dari Mesir (tanah perbudakan) menuju Kanaan
(tanah perjanjian), yang sekarang disebut Palestina. Peristiwa ini
ditelaah, dipahami secara berbeda terus menerus untuk mencari solusi
pada situasi yang baru serta berbeda dan diterapkan kembali oleh umat
Israel.
Nenek moyang bangsa Israel berasal dari daerah
Mesopotamia, yaitu suatu suku yang mengembara, dengan salah satu kepala
sukunya adalah Abram/Abraham. Mereka adalah suku nomaden yang
perjalanannya menyusuri padang pasir, menernakkan hewan peliharaan
mereka dan tak jarang terjadi pertikaian diantara mereka mengenai
perebutan sumur dan atau mata air.
Suku Israel memuja Allah yang
mengikuti kemana arah langkah mereka, yang tidak hanya berdiam disatu
tempat namun ikut mengembara bersama mereka. Mereka memikirkanNya dalam
gambaran seorang Gembala yang membimbing dan melindungi mereka. Juga
seperti Bapa, karena hubungan kekerabatan yang erat dalam satu suku yang
berasal dari satu keturunan nenek moyang, sehingga suku Israel memiliki
hubungan yang wajar dengan Allah mereka, yang mencintai dan bergaul
akrab serta mesra dengan Allah. Namun demikian Allah juga perlu dipuja,
dengan mempersembahkan anak domba atau kambing, hal ini dianggap bahwa
hidup adalah dari Allah dan darah persembahan anak kambing atau domba
dilambangkan memiliki kuasa atau kekuatan Allah menjaga sukuNya, dan
daging korban merupakan suatu jamuan kehormatan Allah bagi umatNya.
Saat
terjadi peristiwa kekeringan yang hebat, suku keturunan Abraham dengan
salah satu kepala sukunya Yakub, berkelana ke arah selatan hingga tiba
di daerah sungai Nil perbatasan Mesir, yang disitu telah tinggal suku
lain keturunan Abraham dan rupanya cukup memiliki pengaruh. Suku ini
kemudian disimbolkan sebagai “Yusuf”. Karena Yusuf inilah akhirnya suku
dari Yakub ini dapat masuk dan tinggal di perbatasan timur Mesir, namun
mereka tetaplah suku yang tinggal terserak.
Tetapi terjadi
perubahan suhu politik di Mesir, para pemimpin yang lama yang memiliki
rasa simpatik pada suku-suku pendatang ini digantikan oleh pemimpin
Mesir yang berlainan sama sekali dengan pemimpin sebelumnya dan merasa
perlu untuk menundukkan mereka dengan hukum Mesir. Suku-suku ini
dikerahkan untuk kerja rodi dan Israel membutuhkan seorang pemimpin yang
dapat dipercaya, mampu serta tetap mengandalkan Allah nenek moyang yang
mempersatukan suku-suku mereka. Gambaran pemimpin ini mereka dapatkan
dalam Musa yang dengan berani menghadapi raja Mesir yang bergelar
Firaun, bahkan melawannya. Musa memimpin mereka lari dari Mesir dan
menjelaskan tentang Allah nenek moyang mereka, ia juga bertindak sebagai
perantara bagi umat Israel berbicara kepada Allah yang menurut mereka
telah terbukti jauh lebih berkuasa dari dewa-dewi Mesir ketika pasukan
Mesir yang tengah mengejar mereka tenggelam dan mati lemas dalam rawa
yang disebut “Laut Kulzum”.
Saat di padang gurun, Musa menjelaskan
pada umat Israel bahwa ada suatu perjanjian spiritual antara Allah yang
akan terus melindungi mereka dari bangsa-bangsa lain yang memusuhi
mereka, kepercayaan ini kemudian menjadi elemen utama yang mempersatukan
suku-suku Israel, yang menjadi bibit sebuah bangsa terpilih. Mereka
mengembara di gurun selama 40 tahun, kadang mereka bertikai dengan
suku-suku lain yang tinggal di gurun.
Tanah air bagi suku Israel
adalah Kanaan (sekarang Palestina) dan mereka menduduki Kanaan dengan
berbagai cara perlahan-lahan, mulai dari perbatasan pegunungan dan
gurun, kemudian terkahir memasuki daerah dataran rendah dan perkotaan.
Disana mereka bertemu suku-suku yang masih kerabat mereka dan mereka
mengambil alih agama setempat. Di Kanaan bangsa Israel yang masih
sederhana belajar dari suku asli yang lebih maju sistem tata masyarakat
dan kebudayaannya. Hal ini membuat keadaan agama suku Israel terancam
keberadaannya. Suku Israel terkadang berperang satu dengan yang lain,
dan yang mempersatukan mereka hanya agama dan saat mereka beribadah
bersama ketempat kudus. Namun dalam kesehariannya mereka sering tergoda
pada kepercayaan local suku asli yang mereka rasa sesuai dengan budaya
bertanu yang baru bagi mereka (dewa-dewi kesuburan tanah). Tetapi
kenangan akan keluarnya mereka dari mesir dan perjanjian Allah dengan
mereka, hal ini menyebabkan umat Israel tidak menyeleweng ataupun murtad
dari Allah.
Persekutuan agama yang dapat menyatukan suku Israel
menjadi persekutuan politik juga, saat mereka menyadari pemimpin yang
dapat menyatukan suku-suku mereka dapat memimpin mereka, tokoh-tokoh itu
disebu “sofetim” dalam Alkitab atau “penyelamat Israel” dengan menjaga
kemurnian agama mereka dari unsur-unsur kekafiran. Mereka adalah
orang-orang yang langsung diutus oleh Allah, yang dipanggil dan
diperlengkapi olehNya untuk memimpin suku-suku Israel, terkadang
terdapat usaha untuk menjadikan mereka pemimpin tetap suku Israel tetapi
tidak berhasil karena sebenarnya pemimpin mereka adalah Allah.
Bahaya
baru mengancam suku Israel, yaitu Filistin. Mereka adalah bangasa yang
gagah perkasa dan jauh lebih maju kebudayaannya dari Israel, dan
berhasil menaklukkan suku-suku Israel. Saat itu suku Israel sadar bahwa
tata masyarakat mereka yang setengah nomaden dan jalinan persekutuan
yang longgar antar suku tidak lagi memadai. Mereka mulai mengenal sistem
kerajaan, tata masyarkat mereka pun mulai berubah, dan mereka memilih
seorang raja yang harus memerintah pada tahun 1050 sebelum Masehi, yang
pertama ialah Raja Saul, namun kemudian ia gagal dalam memenuhi
pengharapan Israel, dan tewas dalam pertempuran dengan Filistin bersama
anaknya, Yonatan. Saul digantikan oleh Daud, dan berhasil mengalahkan
Filistin serta mempersatukan semua suku Israel. Meskipun dari luar
nampaknya kerajaan baru ini kuat, tetapi ternyata masih rapuh.
Perubahan
ini sebenarnya menggambarkan bagaimana Israel berpikir mengenai Allah,
dan sebenarnya Raja Israel tetap Allah, sehingga raja manusia hanyalah
wakil Allah saja, dengan demikian tugas utama raja ialah menjamin
perjanjian Allah dengan umatNya, kehendakNya melalui hukum negara. Kuasa
raja Israel tidak pernah mutlak, terikat oleh kehendak Allah yang
dituliskan dalam hukumNya.
Ketika Daud memerintah, dia membangun
Yerusalem sebagai kota kerajaan karena kota netral yang tidak
diperebutkan oleh suku-suku Israel, hal ini diperkuat dengan pembangunan
Bait Allah oleh Salomo, pengganti Daud, sehingga Yerusalem juga menjadi
kota pusat peribadatan. Politik yang diterapkan oleh Salomo mencontoh
negara lain, khususnya Mesir, yang mengusik nasionalis kesukuan Israel
yang peka sekali. Pajak dan berbagai macam bentuk kerja rodi dilakukan
Salomo demi mendukung ambisinya membangun proyek-proyek besar. Ditambah
dengan pegawai-pegawai kerajaan yang diangkat raja biasanya dari suku
Yehuda, mereka mengurus negeri seolah semuanya adalah milik pribadi
raja. Tetapi setelah Salomo meninggal, Israel terpecah menjadi dua,
kerajaan Israel (bagian utara terdiri dari 10 suku Israel, ibukota
Samaria) dan Yehuda (dua suku Israel yang terus diperintah oleh
keturunan Daud).
Israel merosot saat kerajaan terpecah, di bidang
politik mereka lemah terhadap agresi negara-negara besar, Seperti Mesir,
Babel, Asyur dan terpaksa membayar pajak pada mereka. Korupsi terjadi
dimana-mana, para pegawai raja menindas dan memeras rakyat kecil. Para
raj lupa tugas utama mereka sebagai wakil Tuhan dan penjamin perjanjian
dan mereka menyeleweng dari Tuhan dengan agama kafir dengan alasan
politik.
Para raja yang kurang setia di seimbangkan dengan adanya
tokoh para nabi yang dengan gigih membela agama sejati dan tata cara
masyarakat yang dipandang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka diutus
oleh Tuhan sendiri, dan mereka berkhotbah, mengajar serta bertindak atas
nama Tuhan bahkan mempertaruhkan nyawa mereka. Mereka mencela dan
mempringatkan rakyat biasa, para imam, nabi-nabi palsu, bahkan raja
sekalipun. Namun mereka juga membela rakyat miskin yang lemah yang
ditindas dan diperas kalangan atas.
Elia dan Elisa ialah rangkaian
nabi pertama di Israel bagian utara dalam membela agama melawan
kekafiran yang dilakukan oleh istana. Disusul oleh Nabi Amos, Hosea dan
Mikha di waktu yang sama. Tetapi usaha mereka berakhir sia-sia. Kedua
kerajaan suku-suku Israel hancur dan mereka masuk dalam pembuangan di
negeri Babel.
Pada masa bencana inilah para nabi menjadi penopang
umat yang sepertinya tanpa pengharapan, apa yang mereka anggap sebagai
hukuman atas penyelewangan mereka terhadap Allah. Dimasa pembuangan ini
mereka menjadi sadar terhadap tindakan mereka di waktu lalu dan menerima
pengajaran para nabi-nabi. Mereka mengumpulkan tradisi-tradisi,
hukum-hukum zaman dulu, arsip-arsip, lagu-lagu (mazmur), dll. dan
menelaah kembali apa yang tertulis, mereka mendapati bahwa sejak mula
penciptaan terlihat keagungan dan kasih Tuhan.
Bagi umat Israel,
sejarah mereka adalah wahyu dari Tuhan, sebuah pengharapan yang semakin
terang. Mereka berusaha untuk memurnikan, membersihkan kembali
pengharapan mereka dan percaya Allah akan mengadakan suatu perjanjian
yang baru bagi mereka. Sehingga pengalaman pahit yang mereka alami dalam
pembuangan menjadi saat yang terbaik karena umat Israel mematangkan
pemahaman iman mereka pada Allah dan pada manusia.
Setelah lima
puluh tahun mereka dalam pembuangan di Babel, raja Persia bernama Koresy
mengizinkan mereka kembali ke tanah leluhur mereka dan membangun Bait
Allah. Scara berkelompok maupun skala besar mereka kembali ke Kanaan dan
tradisi serta hukum-hukum yang telah mereka kumpulkan menjadi serta
hasil perenungan mereka selama di pembuangan menjadi pegangan mereka.
Meskipun Palestina tetap berada dibawah kekuasaan kerajaan Persia, namun
para rajanya sangat toleran sehingga umat Israel dapat mengurus
perkaranya sendiri, hidup dengan tata cara dan adat-istiadat mereka
sendiri asalkan tidak memberontak. Karena dukungan para nabi seperti
Hagai, Zakharia dan maleakhi mereka dapat membangun masyarakat Yahudi
sedikit mendekati keinginan mereka, meskipun semangat mereka cepat
berkurang karena kedatangan mereka tidak disambut terlalu baik oleh suku
Israel yang masih tersisa disana maupun oleh suku-suku lain yang
menempati Palestina.
Suhu politik di Timur tengah kembali berubah
karena raja Yunani (utara) Alexander Agung berhasil merebut seluruh
kerajaan Persia dan Mesir, sehingga Palestina pun tidak luput berada
dibawah kekuasaan Yunani. Selain pengaruh politik, kebudayaan dan
filsafat Yunani tersebar dengan sangat luas dan cepat sebagai kebudayaan
modern melalui penyederhanaan bahasa Yunani yang menjadi bahasa
internasional kala itu, kebudayaan Yunani bercampur dengan kebudayaan
setempat. Namun tidak lama Kerajaan Yunani pecah menjadi beberapa bagian
menyebabkan umat Israel yang berada di Palestina berada diantara Mesir
dan Siria/Babel.
Pada akhirnya Israel berada di bawah kekuasaan
Mesir (323 sebelum Masehi), dan sikap toleran dan simpatik Mesir membawa
banyak orang Yahudi kenegerinya dan mereka menerjemahkan seluruh Kitab
Suci Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Namun pada tahun 200 sebelum
Masehi Palestina dikuasai Siria; dan banyak umat Israel, terutama yang
tinggal di Yerusalem terpikat oleh kebudayaan Yunani yang ikut masuk.
Tetapi tetap ada sekelompok orang Yahudi yang mempertahankan adat
istiadat dan agama nenek moyang dengan setia.
Keluarga Makabe
(Yudas, Yonatan, Simon) yang dipelopori oleh ayahnya, Matatias,
memberontak pada masa raja Antiohus Epifanes (167 sebelum Masehi) karena
pemaksaan untuk memeluk kepercayaan raja itu. Mereka berhasil merebut
kemerdekaannya secara politik dan agama; dan Simon Makabe akhirnya
menjadi raja dan imam besar dengan bersekutu dengan negara Roma. Namun
kekacauan dalam negeri sering terjadi setelah Simon Makabe mangkat,
ambisi politik luar negeri yang terlalu besar membawa umat Israel berada
ditengah kepentiangn politik Roma dan Siria.
Hal ini tidak
berlangsung lama karena tahun 63 sebelum Masehi tentara Roma menyerbu
Yerusalem, dan menjadi bawahan Roma meski memiliki raja sendiri,
Herodes, yang tidak disenangi oleh rakyat.
Dalam Perjanjian Lama
jelas terlihat pergumulan Israel merumuskkan iman mereka semakin
berkembang, mereka belajar mengenai Allah serta cara Nya bekerja dalam
kehidupan mereka, kekeliruan dan penyelewengan yang ada dalam sejarah
mereka menjadi pelajaran bagi orang lain. Perjanjian Lama menyatakan
perjanjian Allah dengan umat Israel ternyata dapat juga perjanjian Allah
dengan manusia secara keseluruhan.
Perjalanan hidup
umat Israel dalam menemukan jati diri mereka, mengalami masa-masa sulit
yang mereka pahami sebagai suatu hukuman akibat dari pelanggaran akan
ketetapan yang Tuhan berikan bagi mereka; ketidak setiaan yang mereka
lakukan dengan menyembah ilah-ilah lain. Namun demikian umat Israel
tidak berlama-lama terpuruk dalam kondisi yang tanpa pengharapan, dengan
bantuan para nabi yang tidak kenal lelah dalam memberitahu mereka
kesalahan dan apa yang harus dilakukan untuk keluar dari masa-masa sulit
dengan memperbaiki kelakuan mereka dihadapan Tuhan, kita dapat melihat
bahwa pada akhirnya Israel dapat kembali ke tanah air mereka.
Kisah-kisah
sejarah asal mula umat Israel menjadi suatu bangsa dari hanya suatu
suku terlihat bahwa mereka sejak mula nenek moyang mereka dari Abraham
tidak pernah lepas dari kepemimpinan Allah yang selalu mereka sertakan.
Saya melihat bahwa setiap kali pemimpin Israel membenahi sikap mereka
dalam memurnikan kepercayaan mereka dari sikap meniru penyembahan bangsa
lain terhadap allah mereka, maka Allah Israel yang tadinya meninggalkan
dan menghukum umatNya, akan kembali menolong umatNya.
Umat Israel
terus menerus memperkaya pandangan mereka terhadap Allah, sehingga
menghasilkan suatu rumusan mengenai perilaku moral dan sistem tata
masyarakat yang berbeda dari yang lain. Rangkuman sejarah asal-usul
mereka tidak pernah lepas dari sejarah mereka mengenal Allah, sejak dari
konsep sederhana Allah sebagai gembala, pembimbing dan Bapa yang
mengasihi mereka, menjadi Tuhan yang harus disembah dan yang kuasaNya
tidak terkalahkan oleh allah-alah sembahan bangsa lain. Menjadi Allah
yang mengajarkan Israel menjadi bangsa yang memiliki corak tersendiri
yang hanya percaya pada satu Allah yang superior, menguasai segalanya,
namun dengan penuh kemurahan membiarkan umat yang dipilihNya dekat
kepadaNya dan merasakan kasih Allah yang selalu membela mereka,
mengatasi segala keadaan.
No comments:
Post a Comment