Monday, 25 May 2015

Pengantar Perjanjian Lama

Sejarah Israel dan agama yang mereka anut terpaut dan saling mengait tertulis dalam Perjanjian Lama, yang tema utamanya ialah peristiwa keluarnya bangsa mereka dari Mesir (tanah perbudakan) menuju Kanaan (tanah perjanjian), yang sekarang disebut Palestina. Peristiwa ini ditelaah, dipahami secara berbeda terus menerus untuk mencari solusi pada situasi yang baru serta berbeda dan diterapkan kembali oleh umat Israel.
Nenek moyang bangsa Israel berasal dari daerah Mesopotamia, yaitu suatu suku yang mengembara, dengan salah satu kepala sukunya adalah Abram/Abraham. Mereka adalah suku nomaden yang perjalanannya menyusuri padang pasir, menernakkan hewan peliharaan mereka dan tak jarang terjadi pertikaian diantara mereka mengenai perebutan sumur dan atau mata air.
Suku Israel memuja Allah yang mengikuti kemana arah langkah mereka, yang tidak hanya berdiam disatu tempat namun ikut mengembara bersama mereka. Mereka memikirkanNya dalam gambaran seorang Gembala yang membimbing dan melindungi mereka. Juga seperti Bapa, karena hubungan kekerabatan yang erat dalam satu suku yang berasal dari satu keturunan nenek moyang, sehingga suku Israel memiliki hubungan yang wajar dengan Allah mereka, yang mencintai dan bergaul akrab serta mesra dengan Allah. Namun demikian Allah juga perlu dipuja, dengan mempersembahkan anak domba atau kambing, hal ini dianggap bahwa hidup adalah dari Allah dan darah persembahan anak kambing atau domba dilambangkan memiliki kuasa atau kekuatan Allah menjaga sukuNya, dan daging korban merupakan suatu jamuan kehormatan Allah bagi umatNya.
Saat terjadi peristiwa kekeringan yang hebat, suku keturunan Abraham dengan salah satu kepala sukunya Yakub, berkelana ke arah selatan hingga tiba di  daerah sungai Nil perbatasan Mesir, yang disitu telah tinggal suku lain keturunan Abraham dan rupanya cukup memiliki pengaruh. Suku ini kemudian disimbolkan sebagai “Yusuf”. Karena Yusuf inilah akhirnya suku dari Yakub ini dapat masuk dan tinggal di perbatasan timur Mesir, namun mereka tetaplah suku yang tinggal terserak.
Tetapi terjadi perubahan suhu politik di Mesir, para pemimpin yang lama yang memiliki rasa simpatik pada suku-suku pendatang ini digantikan oleh pemimpin Mesir yang berlainan sama sekali dengan pemimpin sebelumnya dan merasa perlu untuk menundukkan mereka dengan hukum Mesir. Suku-suku ini dikerahkan untuk kerja rodi dan Israel membutuhkan seorang pemimpin yang dapat dipercaya, mampu serta tetap mengandalkan Allah nenek moyang yang mempersatukan suku-suku mereka. Gambaran pemimpin ini mereka dapatkan dalam Musa yang dengan berani menghadapi raja Mesir yang bergelar Firaun, bahkan melawannya. Musa memimpin mereka lari dari Mesir dan menjelaskan tentang Allah nenek moyang mereka, ia juga bertindak sebagai perantara bagi umat Israel berbicara kepada Allah yang menurut mereka telah terbukti jauh lebih berkuasa dari dewa-dewi Mesir ketika pasukan Mesir yang tengah mengejar mereka tenggelam dan mati lemas dalam rawa yang disebut “Laut Kulzum”.

Saat di padang gurun, Musa menjelaskan pada umat Israel bahwa ada suatu perjanjian spiritual antara Allah yang akan terus melindungi mereka dari bangsa-bangsa lain yang memusuhi mereka, kepercayaan ini kemudian menjadi elemen utama yang mempersatukan suku-suku Israel, yang menjadi bibit sebuah bangsa terpilih. Mereka mengembara di gurun selama 40 tahun, kadang mereka bertikai dengan suku-suku lain yang tinggal di gurun.
Tanah air bagi suku Israel adalah Kanaan (sekarang Palestina) dan mereka menduduki Kanaan dengan berbagai cara perlahan-lahan, mulai dari perbatasan pegunungan dan gurun, kemudian terkahir memasuki daerah dataran rendah dan perkotaan. Disana mereka bertemu suku-suku yang masih kerabat mereka dan mereka mengambil alih agama setempat. Di Kanaan bangsa Israel yang masih sederhana belajar dari suku asli yang lebih maju sistem tata masyarakat dan kebudayaannya. Hal ini membuat keadaan agama suku Israel terancam keberadaannya. Suku Israel terkadang berperang satu dengan yang lain, dan yang mempersatukan mereka hanya agama dan saat mereka beribadah bersama ketempat kudus. Namun dalam kesehariannya mereka sering tergoda pada kepercayaan local suku asli yang mereka rasa sesuai dengan budaya bertanu yang baru bagi mereka (dewa-dewi kesuburan tanah). Tetapi kenangan akan keluarnya mereka dari mesir dan perjanjian Allah dengan mereka, hal ini menyebabkan umat Israel tidak menyeleweng ataupun murtad dari Allah.
Persekutuan agama yang dapat menyatukan suku Israel menjadi persekutuan politik juga, saat mereka menyadari pemimpin yang dapat menyatukan suku-suku mereka dapat memimpin mereka, tokoh-tokoh itu disebu “sofetim” dalam Alkitab atau “penyelamat Israel” dengan menjaga kemurnian agama mereka dari unsur-unsur kekafiran. Mereka adalah orang-orang yang langsung diutus oleh Allah, yang dipanggil dan diperlengkapi olehNya untuk memimpin suku-suku Israel, terkadang terdapat usaha untuk menjadikan mereka pemimpin tetap suku Israel tetapi tidak berhasil karena sebenarnya pemimpin mereka adalah Allah.
Bahaya baru mengancam suku Israel, yaitu Filistin. Mereka adalah bangasa yang gagah perkasa dan jauh lebih maju kebudayaannya dari Israel, dan berhasil menaklukkan suku-suku Israel. Saat itu suku Israel sadar bahwa tata masyarakat mereka yang setengah nomaden dan jalinan persekutuan yang longgar antar suku tidak lagi memadai. Mereka mulai mengenal sistem kerajaan, tata masyarkat mereka pun mulai berubah, dan mereka memilih seorang raja yang harus memerintah pada tahun 1050 sebelum Masehi, yang pertama ialah Raja Saul, namun kemudian ia gagal dalam memenuhi pengharapan Israel, dan tewas dalam pertempuran dengan Filistin bersama anaknya, Yonatan. Saul digantikan oleh Daud, dan berhasil mengalahkan Filistin serta mempersatukan semua suku Israel. Meskipun dari luar nampaknya kerajaan baru ini kuat, tetapi ternyata masih rapuh.
Perubahan ini sebenarnya menggambarkan bagaimana Israel berpikir mengenai Allah, dan sebenarnya Raja Israel tetap Allah, sehingga raja manusia hanyalah wakil Allah saja, dengan demikian tugas utama raja ialah menjamin perjanjian Allah dengan umatNya, kehendakNya melalui hukum negara. Kuasa raja Israel tidak pernah mutlak, terikat oleh kehendak Allah yang dituliskan dalam hukumNya.

Ketika Daud memerintah, dia membangun Yerusalem sebagai kota kerajaan karena kota netral yang tidak diperebutkan oleh suku-suku Israel, hal ini diperkuat dengan pembangunan Bait Allah oleh Salomo, pengganti Daud, sehingga Yerusalem juga menjadi kota pusat peribadatan. Politik yang diterapkan oleh Salomo mencontoh negara lain, khususnya Mesir, yang mengusik nasionalis kesukuan Israel yang peka sekali. Pajak dan berbagai macam bentuk kerja rodi dilakukan Salomo demi mendukung ambisinya membangun proyek-proyek besar. Ditambah dengan pegawai-pegawai kerajaan yang diangkat raja biasanya dari suku Yehuda, mereka mengurus negeri seolah semuanya adalah milik pribadi raja. Tetapi setelah Salomo meninggal, Israel terpecah menjadi dua, kerajaan Israel (bagian utara terdiri dari 10 suku Israel, ibukota Samaria) dan Yehuda (dua suku Israel yang terus diperintah oleh keturunan Daud).
Israel merosot saat kerajaan terpecah, di bidang politik mereka lemah terhadap agresi negara-negara besar, Seperti Mesir, Babel, Asyur dan terpaksa membayar pajak pada mereka. Korupsi terjadi dimana-mana, para pegawai raja menindas dan memeras rakyat kecil. Para raj lupa tugas utama mereka sebagai wakil Tuhan dan penjamin perjanjian dan mereka menyeleweng dari Tuhan dengan agama kafir dengan alasan politik.
Para raja yang kurang setia di seimbangkan dengan adanya tokoh para nabi yang dengan gigih membela agama sejati dan tata cara masyarakat yang dipandang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka diutus oleh Tuhan sendiri, dan mereka berkhotbah, mengajar serta bertindak atas nama Tuhan bahkan mempertaruhkan nyawa mereka. Mereka mencela dan mempringatkan rakyat biasa, para imam, nabi-nabi palsu,  bahkan raja sekalipun. Namun mereka juga membela rakyat miskin yang lemah yang ditindas dan diperas kalangan atas.
Elia dan Elisa ialah rangkaian nabi pertama di Israel bagian utara dalam membela agama melawan kekafiran yang dilakukan oleh istana. Disusul oleh Nabi Amos, Hosea dan Mikha di waktu yang sama. Tetapi usaha mereka berakhir sia-sia. Kedua kerajaan suku-suku Israel hancur dan mereka masuk dalam pembuangan di negeri Babel.
Pada masa bencana inilah para nabi menjadi penopang umat yang sepertinya tanpa pengharapan, apa yang mereka anggap sebagai hukuman atas penyelewangan mereka terhadap Allah. Dimasa pembuangan ini mereka menjadi sadar terhadap tindakan mereka di waktu lalu dan menerima pengajaran para nabi-nabi. Mereka mengumpulkan tradisi-tradisi, hukum-hukum zaman dulu, arsip-arsip, lagu-lagu (mazmur), dll. dan menelaah kembali apa yang tertulis, mereka mendapati bahwa sejak mula penciptaan terlihat keagungan dan kasih Tuhan.
Bagi umat Israel, sejarah mereka adalah wahyu dari Tuhan, sebuah pengharapan yang semakin terang. Mereka berusaha untuk memurnikan, membersihkan kembali pengharapan mereka dan percaya Allah akan mengadakan suatu perjanjian yang baru bagi mereka. Sehingga pengalaman pahit yang mereka alami dalam pembuangan menjadi saat yang terbaik karena umat Israel mematangkan pemahaman iman mereka pada Allah dan pada manusia.

Setelah lima puluh tahun mereka dalam pembuangan di Babel, raja Persia bernama Koresy mengizinkan mereka kembali ke tanah leluhur mereka dan membangun Bait Allah. Scara berkelompok maupun skala besar mereka kembali ke Kanaan dan tradisi serta hukum-hukum yang telah mereka kumpulkan menjadi serta hasil perenungan mereka selama di pembuangan menjadi pegangan mereka. Meskipun Palestina tetap berada dibawah kekuasaan kerajaan Persia, namun para rajanya sangat toleran sehingga umat Israel dapat mengurus perkaranya sendiri, hidup dengan tata cara dan adat-istiadat mereka sendiri asalkan tidak memberontak. Karena dukungan para nabi seperti Hagai, Zakharia dan maleakhi mereka dapat membangun masyarakat Yahudi sedikit mendekati keinginan mereka, meskipun semangat mereka cepat berkurang karena kedatangan mereka tidak disambut terlalu baik oleh suku Israel yang masih tersisa disana maupun oleh suku-suku lain yang menempati Palestina.
Suhu politik di Timur tengah kembali berubah karena raja Yunani (utara) Alexander Agung berhasil merebut seluruh kerajaan Persia dan Mesir, sehingga Palestina pun tidak luput berada dibawah kekuasaan Yunani. Selain pengaruh politik, kebudayaan dan filsafat Yunani tersebar dengan sangat luas dan cepat sebagai kebudayaan modern melalui penyederhanaan bahasa Yunani yang menjadi bahasa internasional kala itu, kebudayaan Yunani bercampur dengan kebudayaan setempat. Namun tidak lama Kerajaan Yunani pecah menjadi beberapa bagian menyebabkan umat Israel yang berada di Palestina berada diantara Mesir dan Siria/Babel.
Pada akhirnya Israel berada di bawah kekuasaan Mesir (323 sebelum Masehi), dan sikap toleran dan simpatik Mesir membawa banyak orang Yahudi kenegerinya dan mereka menerjemahkan seluruh Kitab Suci Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Namun pada tahun 200 sebelum Masehi Palestina dikuasai Siria; dan banyak umat Israel, terutama yang tinggal di Yerusalem terpikat oleh kebudayaan Yunani yang ikut masuk. Tetapi tetap ada sekelompok orang Yahudi yang mempertahankan adat istiadat dan agama nenek moyang dengan setia.
Keluarga Makabe (Yudas, Yonatan, Simon) yang dipelopori oleh ayahnya, Matatias, memberontak pada masa raja Antiohus Epifanes (167 sebelum Masehi) karena pemaksaan untuk memeluk kepercayaan raja itu. Mereka berhasil merebut kemerdekaannya secara politik dan agama; dan Simon Makabe akhirnya menjadi raja dan imam besar dengan bersekutu dengan negara Roma. Namun kekacauan dalam negeri sering terjadi setelah Simon Makabe mangkat, ambisi politik luar negeri yang terlalu besar membawa umat Israel berada ditengah kepentiangn politik Roma dan Siria.
Hal ini tidak berlangsung lama karena tahun 63 sebelum Masehi tentara Roma menyerbu Yerusalem, dan menjadi bawahan Roma meski memiliki raja sendiri, Herodes, yang tidak disenangi oleh rakyat.
Dalam Perjanjian Lama jelas terlihat pergumulan Israel merumuskkan iman mereka semakin berkembang, mereka belajar mengenai Allah serta cara Nya bekerja dalam kehidupan mereka, kekeliruan dan penyelewengan yang ada dalam sejarah mereka menjadi pelajaran bagi orang lain. Perjanjian Lama menyatakan perjanjian Allah dengan umat Israel ternyata dapat juga perjanjian Allah dengan manusia secara keseluruhan.

Perjalanan hidup umat Israel dalam menemukan jati diri mereka, mengalami masa-masa sulit yang mereka pahami sebagai suatu hukuman akibat dari pelanggaran akan ketetapan yang Tuhan berikan bagi mereka; ketidak setiaan yang mereka lakukan dengan menyembah ilah-ilah lain. Namun demikian umat Israel tidak berlama-lama terpuruk dalam kondisi yang tanpa pengharapan, dengan bantuan para nabi yang tidak kenal lelah dalam memberitahu mereka kesalahan dan apa yang harus dilakukan untuk keluar dari masa-masa sulit dengan memperbaiki kelakuan mereka dihadapan Tuhan, kita dapat melihat bahwa pada akhirnya Israel dapat kembali ke tanah air mereka.
Kisah-kisah sejarah asal mula umat Israel menjadi suatu bangsa dari hanya suatu suku terlihat bahwa mereka sejak mula nenek moyang mereka dari Abraham tidak pernah lepas dari kepemimpinan Allah yang selalu mereka sertakan. Saya melihat bahwa setiap kali pemimpin Israel membenahi sikap mereka dalam memurnikan kepercayaan mereka dari sikap meniru penyembahan bangsa lain terhadap allah mereka, maka Allah Israel yang tadinya meninggalkan dan menghukum umatNya, akan kembali menolong umatNya.

Umat Israel terus menerus memperkaya pandangan mereka terhadap Allah, sehingga menghasilkan suatu rumusan mengenai perilaku moral dan sistem tata masyarakat yang berbeda dari yang lain. Rangkuman sejarah asal-usul mereka tidak pernah lepas dari sejarah mereka mengenal Allah, sejak dari konsep sederhana Allah sebagai gembala, pembimbing dan Bapa yang mengasihi mereka, menjadi Tuhan yang harus disembah  dan yang kuasaNya tidak terkalahkan oleh allah-alah sembahan bangsa lain. Menjadi Allah yang mengajarkan Israel menjadi bangsa yang memiliki corak tersendiri yang hanya percaya pada satu Allah yang superior, menguasai segalanya, namun dengan penuh kemurahan membiarkan umat yang dipilihNya dekat kepadaNya dan merasakan kasih Allah yang selalu membela mereka, mengatasi segala keadaan.

No comments:

Post a Comment