11 pasal pertama dari Kitab Kejadian merupakan kisah akar umat Israel
dan menjadi legitimasi kepercayaan iman Israel terhadap asal-usul
keberadaan mereka pada dunia.
Narasi-narasi yang terdapat dalam
Kitab Kejadian 1-11 merupakan sebuah teks yang kaya akan sejarah
sekaligus mengandung makna teologi yang problematik di dalamnya. Narasi
pertama ialah kisah penciptaan dunia menurut pemahaman iman umat Israel
dan memiliki perspektif kosmik yang mengakomodir/menjadi sarana bagi
umat Israel untuk menjelaskan kepercayaan dan tradisi mereka. Kedua
narasi, dengan gaya yang sangat berbeda, menjelaskan bahwa dunia adalah
milik Allah, dibentuk oleh keinginan Allah serta diberkati dengan
kelimpahan oleh-Nya, dan harus dipelihara oleh manusia yang telah diberi
kuasa namun juga dibatasi.
Narasi dalam Kejadian 3:1-24; 4:1-16,
menyaksikan problematik yang intens dalam kisah penciptaan, kisah
penciptaan terdapat sikap bertahan dan menolak niat baik Allah bagi
dunia.
Narasi mengenai Banjir Besar menjadi sentral kisah
penghancuran terhadap karya cipta Allah. Banjir air bah ini dipahami
sebagai kekuatan kekacauan yang primordial, membahayakan kehidupan di
bumi; menjadi alat yang dipakai untuk menjalankan kehendak Allah
menghakimi ciptaanNya, terkecuali Nuh “seorang yang benar”; kemudian
menjadi manusia ciptaan baru setelah Banjir Besar itu bersama dengan
keluarganya. Allah kemudian membuat tanda perjanjian kesetiaan terhadap
ciptaanNya (9:15-17) dengan pelangi.
Narasi ini berakhir di
Kejadian 11:1-9 pada kisah Babel, sebuah pernyataan final kesombongan
manusia yang menantang Allah, dan menggugah respon keras Allah. Kisah
yang berasal dari berbagai sumber mitologi ini sekarang diubah menjadi
pernyataan teologis penghakiman ilahi dan penyelamatan ilahi,
menyelamatkan dan menghakimi menjadi definisi dari Allah umat Israel dan
penghukuman Allah di dunia tempat umat Israel hidup.
Sedangkan
yang kedua ialah mengenai relasi dan kekerabatan sebagai sejarah nenek
moyang umat Israel dalam sistem sosial dan politis mereka. Kisah
penciptaan dunia ini ditemukan dari berbagai macam sumber kebudayaan
yang jauh lebih tua dan maju dari Israel sendiri, yang mungkin juga
mitos, tetapi bukan berarti suatu kebohongan. Karena penulisan kitab ini
muncul dari latar belakang lingkungan yang masyarakatnya biasa
membagikan mitologi yang mereka miliki dengan suku-suku bangsa disekitar
mereka. Dalam penulisan Narasi Kitab Kejadian terdapat dua sumber
penulisan Imamat (Priestly / P) dan Yahwist (J) yang tampaknya
masing-masing berdiri sendiri namun juga terkait satu sama lain.
Bahwa
dunia ini adalah milik Allah yang dibuat dari kehendaknya. Dalam narasi
Penciptaan dunia Kejadian 1:1-2:4a terlihat Allah menciptakan dunia
bukan dari sesuatu yang tidak ada melainkan Allah menciptakan dari yang
sudah ada hanya keadaannya masih kacau, belum berbentuk; sangat mirip
dengan mitologi dari Mesopotamia kuno.
Narasi pada Kain dan Habel
dan munculnya penolakan manusia terhadap Allah Sang Pencipta, meskipun
telah terjadi Kain membunuh Habel, Allah tetap bersikap mengasihi dan
melindungi dari kehancuran yang dihasilkan akibat tindakan manusia.
Banjir
besar yang dialami oleh Nuh, merupakan suatu respons penghakiman Allah
terhadap makhluk ciptaannya yang berlaku tidak sesuai dengan yang
diharapkan Allah. Sehingga Allah ingin meniadakan apa yang telah Ia
ciptakan dengan air bah dan membatalkan janji yang telah Ia buat
sebelumnya yaitu pada waktu Penciptaan dunia. Tetapi Allah melihat Nuh
dan keluarganya serta berbelas kasih padanya karena Ia berlaku benar
melalui karya penyelamatan. Kisah ini berakhir dengan pengulangan janji
Allah pada manusia saat Allah melukis pelangi sebagai tanda bagi Allah
dan manusia.
Dari ke empat kisah ini terlihat bahwa ada
penghakiman dan karya penyelamatan Allah yang merupakan fokus utama
kehadiran dan aktifitas Allah. Hal ini kelihatan terjadi berulang kali
karena kekerasan hati, penolakan, kekerasan dan arogansi manusia
terhadap Sang Pencipta.
Dalam Kejadian 12-50, disini
terdapat beberapa tokoh utama yang memiliki peran sentral dalam
membentuk karakter umat Israel; mengenai iman Israel yang timbul dari
janji penyertaan Allah terhadap mereka yang dapat diurut dengan silsilah
yang menuju pada manusia pertama, Adam. Pada bagian ini Allah
memberikan janji pada bangsa Israel dan akhirnya digenapi Allah di dalam
keturunan Israel, Daud dan Salomo.
Pada tiga generasi pertama
dari nenek moyang Israel, yaitu Abraham dan Sarah, Ishak dan Ribka serta
Yakub dan Rahel; cenderung berfokus pada relasi interfamilial sebagai
suku yang nomaden dalam mempertahankan wilayah mereka dan apa yang
menjadi hak milik mereka. Kisah ini diceritakan dlam kepentingan
keluarga yang tidak dapat dipisahkan dari peran Allah baik secara
tersurat maupun tersirat. Tema besar yang terdapat dalam kisah-kisah ini
merupakan janji yang Allah ucapkan sendiri pada nenek moyang Israel,
dimulai dari Abraham dan Sarah, untuk memberikan keturunan, anak
laki-laki. Juga dalam hal kedudukan sosial dan politik Abraham beroleh
janji Allah akan keamanannya.
Dalam kisah selanjutnya umat Israel
menyatakan klaim mereka terhadap tanah perjanjian yang telah diberikan
Allah (Kitab Yosua), dan mereka menerimanya serta merayakan pendudukan
mereka terhadap daerah itu secara total sebagai penggenapan dari janji
Allah.
Dan ketika umat Israel mengalami pengasingan, hal ini
menjadi pengharapan bagi mereka. Keyakinan Allah masih terus bekerja
hingga saat ini untuk menyatukan mereka yang terserak dan menjamin akan
kelangsungan hidup umat Israel, karena Allah setia terhadap janjinya.
Dalam
kisah Yusuf dilukiskan bahwa Yusuf adalah tokoh yang ambigu, identitas
teologinya sebagai seorang Israel namun mengabdi pada kepentingan
politik kerajaan Mesir sehingga di munculkan gambaran komunitas umat
beriman yang harus hidup berhati-hati berhikmat dan tidak melanggar
batas rapuh akan penolakan dan akomodasi bangsa lain sekitar mereka.
Teologi
feminis para ibu memiliki peranan penting, karena Sarah, Rachel dan
Ribka adalah perempuan yang awalnya mandul dan mendapat kasih karunia
mujizat Allah. Sarah sebagai istri yang dipemalukan menjadi Ibu Iman
mendampingi Abraham dan kemudian menjadi simbol bagi Paulus sebagai
lambang kebebasan pemberitaan injil.
Rahel digambarkan sebagai ibu
yang berduka karena anaknya meninggal dan menolak penghiburan, dalam
Yeremia menjadi lambang kesedihan ketika Israel berada dalam pengasingan
dan juga ketika Herodes membantai anak-anak dalam Injil Matius. Ribka
dalam kisah ini peranannya tidak terlalu diangkat dalam tradisi biblika.
Namun
wanita ketiga yang menjadi lambang perbudakan adalah Hagar, dia adalah
ibu dari salah satu anak Abraham yang juga mendapat berkat, Ismael, dan
mendapat belas kasih serta pemeliharaan Allah dan menjadi pintu bagi
Israel untuk menerima bangsa lain yang memiliki legitimasi untuk
mengklaim janji Allah. Abraham Bapa Iman memiliki iman yang mengalahkan
kemustahilan dan yakin akan janji yang di ucapkan Allah, meskipun saat
itu Abraham tidak melihat buktinya; namun dia berjalan mengikuti Allah.
Opini:
Menurut
saya memang bukan tidak mungkin bahwa tulisan dalam kitab kejadian pada
kisah penciptaan dunia berasal dari mitologi bangsa lain, yang
dianggap layak oleh umat Israel sehingga diadaptasi dengan di bentuk
kemudian disusun ulang sehingga menjadi kepercayaan yang sesuai dengan
apa yang mereka imani. Mereka memiliki konsep tersendiri yang kemudian
belakangan kita pun mengadaptasi dan mempercayainya menjadi bagian dari
iman kita. Sebenarnya hal ini pun mungkin sesuai dengan konteks pada
zaman itu ketika mereka yang dalam pembuangan harus menyampaikan iman
mereka agar dimengerti oleh bangsa-bangsa lain dengan menggunakan budaya
mereka. Sehingga dengan adanya beberapa kemiripan diharapkan dapat
membuat mereka lebih diterima oleh bangsa-bangsa lain saat mereka berada
dalam pembuangan. Hal ini dapat dimaklumi, karena dalam kehidupan kita
sendiri, seringkali kita harus menyampaikan iman kita dengan budaya
setempat, misal menghubungkan Yesus Kristus dengan mitologi jawa ratu
adil yang akan datang.
Dalam silsilah nenek moyang bangsa Israel,
yang merupakan upaya umat Israel dalam menjelaskan darimana mereka, dan
siapa yang menjadi nenek moyang mereka sangat penting bagi mereka.
Karena dengan memiliki nenek moyang yang mengalami kemurahan Allah dan
kedudukan sosial politis yang diperoleh nenek moyang mereka, menjadikan
mereka berpengharapan terhadap situasi sulit yang mereka hadapi dan
menjaga harga diri mereka sebagai bangsa yang terpilih.
Belakangan
ini seturut perkembangan teologi feminis, para ibu Israel mendapat
sorotan karena peranan mereka yang menjadi lambang/symbol dari situasi
umat Israel. Seperti Sarah sebagai kebebasan karena bukan berasal dari
keturunan budak dan Rahel menjadi simbol dukacita ketika dalam masa-masa
sulit zaman pembuangan.
Memang saya melihat dalam penulisan
kisah-kisah ini, sepertinya Allah menjaga kelangsungan hidup mereka
dalam masa sesukar apapun. Dan kebanggaan umat Israel penyertaan Allah
dan nenek moyang mereka sebagai yang terpilih di mata Allah.
No comments:
Post a Comment