Monday, 25 May 2015

Pengantar Studi Alkitab

11 pasal pertama dari Kitab Kejadian merupakan kisah akar umat Israel dan menjadi legitimasi kepercayaan iman Israel terhadap asal-usul keberadaan mereka pada dunia.
Narasi-narasi yang terdapat dalam Kitab Kejadian 1-11 merupakan sebuah teks yang kaya akan sejarah sekaligus mengandung makna teologi yang problematik di dalamnya. Narasi pertama ialah kisah penciptaan dunia menurut pemahaman iman umat Israel dan memiliki perspektif kosmik yang mengakomodir/menjadi sarana bagi umat Israel untuk menjelaskan kepercayaan dan tradisi mereka. Kedua narasi, dengan gaya yang sangat berbeda, menjelaskan bahwa dunia adalah milik Allah, dibentuk oleh keinginan Allah serta diberkati dengan kelimpahan oleh-Nya, dan harus dipelihara oleh manusia yang telah diberi kuasa namun juga dibatasi.
Narasi dalam Kejadian 3:1-24; 4:1-16, menyaksikan problematik yang intens dalam kisah penciptaan, kisah penciptaan terdapat sikap bertahan dan menolak niat baik Allah bagi dunia.
Narasi mengenai Banjir Besar menjadi sentral kisah penghancuran terhadap karya cipta Allah. Banjir air bah ini dipahami sebagai kekuatan kekacauan yang primordial, membahayakan kehidupan di bumi; menjadi alat yang dipakai untuk menjalankan kehendak Allah menghakimi ciptaanNya, terkecuali Nuh “seorang yang benar”; kemudian menjadi manusia ciptaan baru setelah Banjir Besar itu bersama dengan keluarganya. Allah kemudian membuat tanda perjanjian kesetiaan terhadap ciptaanNya (9:15-17) dengan pelangi.
Narasi ini berakhir di Kejadian 11:1-9 pada kisah Babel, sebuah pernyataan final kesombongan manusia yang menantang Allah, dan menggugah respon keras Allah. Kisah yang berasal dari berbagai sumber mitologi ini sekarang diubah menjadi pernyataan teologis penghakiman ilahi dan penyelamatan ilahi, menyelamatkan dan menghakimi menjadi definisi dari Allah umat Israel dan penghukuman Allah di dunia tempat umat Israel hidup.
Sedangkan yang kedua ialah mengenai relasi dan kekerabatan sebagai sejarah nenek moyang umat Israel dalam sistem sosial dan politis mereka. Kisah penciptaan dunia ini ditemukan dari berbagai macam sumber kebudayaan yang jauh lebih tua dan maju dari Israel sendiri, yang mungkin juga mitos, tetapi bukan berarti suatu kebohongan. Karena penulisan kitab ini muncul dari latar belakang lingkungan yang masyarakatnya biasa membagikan mitologi yang mereka miliki dengan suku-suku bangsa disekitar mereka. Dalam penulisan Narasi  Kitab Kejadian terdapat dua sumber penulisan Imamat (Priestly / P) dan Yahwist (J) yang tampaknya masing-masing berdiri sendiri namun juga terkait satu sama lain.
Bahwa dunia ini adalah milik Allah yang dibuat dari kehendaknya. Dalam narasi Penciptaan dunia Kejadian 1:1-2:4a terlihat Allah menciptakan dunia bukan dari sesuatu yang tidak ada melainkan Allah menciptakan dari yang sudah ada hanya keadaannya masih kacau, belum berbentuk; sangat mirip dengan mitologi dari Mesopotamia kuno.
Narasi pada Kain dan Habel dan munculnya penolakan manusia terhadap Allah Sang Pencipta, meskipun telah terjadi Kain membunuh Habel, Allah tetap bersikap mengasihi dan melindungi dari kehancuran  yang dihasilkan akibat tindakan manusia.
Banjir besar yang dialami oleh Nuh, merupakan suatu respons penghakiman Allah terhadap makhluk ciptaannya yang berlaku tidak sesuai dengan yang diharapkan Allah. Sehingga Allah ingin meniadakan apa yang telah Ia ciptakan dengan air bah dan membatalkan janji yang telah Ia buat sebelumnya yaitu pada waktu Penciptaan dunia. Tetapi Allah melihat Nuh dan keluarganya serta berbelas kasih padanya karena Ia berlaku benar melalui karya penyelamatan. Kisah ini berakhir dengan pengulangan janji Allah pada manusia saat Allah melukis pelangi sebagai tanda bagi Allah dan manusia.
Dari ke empat kisah ini terlihat bahwa ada penghakiman dan karya penyelamatan Allah yang merupakan fokus utama kehadiran dan aktifitas Allah. Hal ini kelihatan terjadi berulang kali karena kekerasan hati, penolakan, kekerasan dan arogansi manusia terhadap Sang Pencipta.

Dalam Kejadian 12-50, disini terdapat beberapa tokoh utama  yang memiliki peran sentral dalam membentuk karakter umat Israel; mengenai iman Israel yang timbul dari janji penyertaan Allah terhadap mereka yang dapat diurut dengan silsilah yang menuju pada manusia pertama, Adam. Pada bagian ini Allah memberikan janji pada bangsa Israel dan akhirnya digenapi Allah di dalam keturunan Israel, Daud dan Salomo.
Pada tiga generasi pertama dari nenek moyang Israel, yaitu Abraham dan Sarah, Ishak dan Ribka serta Yakub dan Rahel; cenderung berfokus pada relasi interfamilial sebagai suku yang nomaden dalam mempertahankan wilayah mereka dan apa yang menjadi hak milik mereka. Kisah ini diceritakan dlam kepentingan keluarga yang tidak dapat dipisahkan dari peran Allah baik secara tersurat maupun tersirat. Tema besar yang terdapat dalam kisah-kisah ini merupakan janji yang Allah ucapkan sendiri pada nenek moyang Israel, dimulai dari Abraham dan Sarah, untuk memberikan keturunan, anak laki-laki. Juga dalam hal kedudukan sosial dan politik Abraham beroleh janji Allah akan keamanannya.
Dalam kisah selanjutnya umat Israel menyatakan klaim mereka terhadap tanah perjanjian yang telah diberikan Allah (Kitab Yosua), dan mereka menerimanya serta merayakan pendudukan mereka terhadap daerah itu secara total sebagai penggenapan dari janji Allah.
Dan ketika umat Israel mengalami pengasingan, hal ini menjadi pengharapan bagi mereka. Keyakinan Allah masih terus bekerja hingga saat ini untuk menyatukan mereka yang terserak dan menjamin akan kelangsungan hidup umat Israel, karena Allah setia terhadap janjinya.
Dalam kisah Yusuf dilukiskan bahwa Yusuf adalah tokoh yang ambigu, identitas teologinya sebagai seorang Israel namun mengabdi pada kepentingan politik kerajaan Mesir sehingga di munculkan gambaran komunitas umat beriman yang harus hidup berhati-hati berhikmat dan tidak melanggar batas rapuh akan penolakan dan akomodasi bangsa lain sekitar mereka.
Teologi feminis para ibu memiliki peranan penting, karena Sarah, Rachel dan Ribka adalah perempuan yang awalnya mandul dan mendapat kasih karunia mujizat Allah.  Sarah sebagai istri yang dipemalukan menjadi Ibu Iman mendampingi Abraham dan kemudian menjadi simbol bagi Paulus sebagai lambang kebebasan pemberitaan injil.
Rahel digambarkan sebagai ibu yang berduka karena anaknya meninggal dan menolak penghiburan, dalam Yeremia menjadi lambang kesedihan ketika Israel berada dalam pengasingan dan juga ketika Herodes membantai anak-anak dalam Injil Matius. Ribka dalam kisah ini peranannya tidak terlalu diangkat dalam tradisi biblika.
Namun wanita ketiga yang menjadi lambang  perbudakan adalah Hagar, dia adalah ibu dari salah satu anak Abraham yang juga mendapat berkat, Ismael, dan mendapat belas kasih serta pemeliharaan Allah dan menjadi pintu bagi Israel untuk menerima bangsa lain yang memiliki legitimasi untuk mengklaim janji Allah. Abraham Bapa Iman memiliki iman yang mengalahkan kemustahilan dan yakin akan janji yang di ucapkan Allah, meskipun saat itu Abraham tidak melihat buktinya; namun dia berjalan mengikuti Allah.

Opini:
Menurut  saya memang bukan tidak mungkin bahwa tulisan dalam kitab kejadian pada kisah penciptaan dunia berasal dari mitologi bangsa lain, yang  dianggap layak oleh umat Israel sehingga diadaptasi dengan di bentuk kemudian disusun ulang sehingga menjadi kepercayaan yang sesuai dengan apa yang mereka imani. Mereka memiliki konsep tersendiri yang kemudian belakangan kita pun mengadaptasi dan mempercayainya menjadi bagian dari iman kita. Sebenarnya hal ini pun mungkin sesuai dengan konteks pada zaman itu ketika mereka yang  dalam pembuangan harus menyampaikan iman mereka agar dimengerti oleh bangsa-bangsa lain dengan menggunakan budaya mereka. Sehingga dengan adanya beberapa kemiripan diharapkan dapat membuat mereka lebih diterima oleh bangsa-bangsa lain saat mereka berada dalam pembuangan. Hal ini dapat dimaklumi, karena dalam kehidupan kita sendiri, seringkali kita harus menyampaikan iman kita dengan budaya setempat, misal menghubungkan Yesus Kristus dengan mitologi jawa ratu adil yang akan datang.
Dalam silsilah nenek moyang bangsa Israel, yang merupakan upaya umat Israel dalam menjelaskan darimana mereka, dan siapa yang menjadi nenek moyang mereka sangat penting bagi mereka. Karena dengan memiliki nenek moyang yang mengalami kemurahan Allah dan kedudukan sosial politis yang diperoleh nenek moyang mereka, menjadikan mereka berpengharapan terhadap situasi sulit yang mereka hadapi dan menjaga harga diri mereka sebagai bangsa yang terpilih.
Belakangan ini seturut perkembangan teologi feminis, para ibu Israel mendapat sorotan karena peranan mereka yang menjadi lambang/symbol dari situasi umat Israel. Seperti Sarah sebagai kebebasan karena bukan berasal dari keturunan budak dan Rahel menjadi simbol dukacita ketika dalam masa-masa sulit zaman pembuangan.
Memang saya melihat dalam penulisan kisah-kisah ini, sepertinya Allah menjaga kelangsungan hidup mereka dalam masa sesukar apapun. Dan kebanggaan umat Israel penyertaan Allah dan nenek moyang mereka sebagai yang terpilih di mata Allah.

No comments:

Post a Comment