Pendahuluan
Saat ini tidak banyak orang yang
mengetahui apa sebenarnya yang menjadi sebab diumumkannya suatu perang
yang sangat besar dimasanya. Bangsa-bangsa Eropa untuk sementara dapat
mengesampingkan perbedaan yang ada diantara mereka dan bersatu untuk
menggempur suatu bangsa di Timur Tengah dan Asia Kecil yang bangkit
serta sedang dalam masa keemasannya dengan agama baru yang memersatukan
mereka. Tujuan penulisan ini adalah untuk melihat kembali Perang Salib,
alasan-alasan, akibat-akibat dan hal-hal yang terjadi ketika perang
tersebut berlangsung serta tinjauan kritis yang dapat dilakukan agar
barangkali dapat menjadi pelajaran dan masukan bagi gereja masa kini.
Invasi yang berlangsung dari bangsa Barat ke Tanah Suci dibagi menjadi
enam kelompok besar invasi.
Sekilas Tentang Perang Salib
Perang Salib I
Palestina, Siria dan Asia Kecil jatuh ke tangan orang Turki yang nota
bene adalah beragama Isalam serta mengancam kebudayaan dan agama Kristen
di Eropa. Akibat kekuasaan yang dimilki oleh Turki, maka orang Turki
dengan leluasa mengganggu dan menyiksa para musafir Kristen yang
mengunjungi tempat-tempat suci di Palestina. Hal ini terjadi kira-kira
tahun 1070.
Situasi tersebut dilaporkan kepada Paus. Tahun 1095 Paus
Urbanus II mengerahkan orang Kristen untuk perang suci demi merebut
tanah suci dari orang Islam. Melalui khotbah-khotbah, panggilan untuk
perang suci dikumandangkan. Tahun 1096 Pangeran Bohemund dari Taranto
beserta kemenakannya, Tancred, memimpin pasukannya yang berasal dari
kaum Frank, berangkat dari pelabuhan di wilayah Byzantium menuju Asia
Kecil. Mereka adalah bangsa yang suka berperang dan dapat dikatakan
masih barbar.
Banyak respon baik untuk perang suci tersebut tetapi
dengan berbagai motif, yaitu; ada yang mengharapkan untung dan
kehormatan, ada yang tertarik oleh cerita yang ajaib tentang daerah
timur, ada yang ingin mendapat penghapusan dari hukuman dosanya
(indulgensia), yang dijanjikan oleh Paus. Sedangkan dari pihak Paus
sendiri perang salib dilakukan dengan tendensi untuk mengembangkan
kekuasaannya di daerah timur. Perang salib oleh orang Kristen mengandung
arti rohani dan dianggap sebagai suatu kebajikan besar, padahal dalam
prakteknya perang salib seperti perang biasa dan perang salib tersebut
tidak dengan motif untuk mengabarkan Injil kepada orang Islam atau
membela kebenaran Injil. Tetapi apakah untuk mengabarkan Injil perlu di
lakukan dengan kekerasan, peperangan? Apakah Injil perlu dibela
kebenarannya? Dalam perang salib ini, orang Kristen mengalami kekalahan.
Perang Salib II
Dianjurkan oleh Bernhard dari Clairvaux, seorang kepala biara yang
berkuasa di Eropa masa itu sebab Raja Prancis dan Paus Eugenius takluk
padanya. Perang Salib kembali dianjurkan karena kerajaan Edesa di Asia
Kecil (Armenia) direbut oleh orang-orang Turki. Perang ini menjadi
perang paling religius karena pandangan Bernhard yang saleh dan mistis
serta yang tengah menjalar di Eropa.
Penolakan Bernhard terhadap
kaum muslim bukan karena kebencian terhadap agama Islam, melainkan
karena ancaman pada wilayah Tanah Suci yang baginya berarti juga ancaman
bagi seluruh dunia. Dalam periode ini, ketika di umat Kristen Eropa
dipengaruhi oleh pandangan kesalehan mistis yang baru dari Bernhard,
demikian juga yang terjadi pada awal Islam dengan gerakan mistisisme
Islam berlandaskan cinta. Apa yang terjadi adalah ketika keyakinan bahwa
kecerdasan dan welas asih manusia akan disingkirkan karena prinsip
tindakan atas dasar keimanan. Perang Salib kedua ini berlangsung dari
tahun 1157-1149. Juga orang Kristen dikalahkan.
Perang Salib III
Pemicunya adalah karena Sultan Saladin dari Mesir, yang sebelumnya
dikirim oleh Sultan Nurudin dari Damaskus. Saladin menjadi tokoh
pahlawan Islam yang sangat dihormati karena kesalehan, kesederhanaan,
pengabdian, kerendah hatiannya dalam melakukan ajaran-ajaran islam dan
menjadi pemimpin yang menyatukan kerajaan-kerajaan Islam disekeliling
wilayah kekuasaan Tentara Salib.
Raja Yerusalem yaitu Baldwin IV
yang memiliki keberanian dan kekuatan hati adalah penderita lepra dan
sedang menghitung hari-harinya; dan dia memiliki kesulitan untuk
mengontrol perilaku para baron yang haus kekuasaan dan wilayah. Namun
kali ini kalah juga, Yerusalem diambil alih oleh Sultan Saladin pada
tanggal 2 Otober 1187.
Raja Richard dari Inggris dan Phillip
Augustus dari Prancis menyatukan kekuatan dan berangkat untuk
menyelamatkan Tanah Suci, hal ini bukan merupakan suatu kebencian
terhadap kaum muslim, melainkan dipandang sebagai tantangan berperang
bagi Raja Richard. Dalam perang ini sisi religius yang dianggap sebagai
satu motifasi besar kaum Kristen telah berpindah pada pasukan pimpinan
Saladin yang dengan setia tetap mengikuti hukum Islam dalam berperang.
Perang Salib IV
Terjadi dari tahun 1202-1204. Dimulai oleh Paus Innocentius III;
gerakan ini dipimpin oleh Boniface dari Montferrat, dan dia mengusulkan
untuk menyerang Kairo sebagai langkah awal. Perang salib ini kemudian
ditunggangi oleh motifasi untuk memajukan perniagaan Venesia yang pada
waktu itu bersaing hebat dengan Hungaria, dan juga keinginan pedagang
yang sangat kaya dari Venesia, Dandolo, yang menyediakan armada kapal
dan bahan pangan untuk mengangkut para Tentara Salib. Alih-alih menuju
Tanah Suci, Tentara Salib dimanfaatkan untuk merebut Byzantium; terjadi
huru-hara di kota ini, penjarahan, kekerasan dan penghinaan yang
mengakibatkan kecaman dari Paus Innocentius III.
Peperangan antara
kaum Frank dan kekaisaran Timur melemahkan orang Kristen di dalam
melawan orang Islam karena Kristen Barat yang dibutakan oleh keserakahan
tidak dapat meniru upaya yang dilakukan para pemimpin Byzantium
sebelumnya dalam menahan laju serangan muslim Turki. Byzantium kalah dan
kerajaan timur diganti dengan kerajaan Latin yang disebut Rumania,
namun kerajaan baru ini tidak bertahan lama. Peraturan-peraturan Gereja
Timur diubah menurut adat Gereja Barat saat itu.
Perang Salib V
Paus Honorius II (1216), penerus Paus Innocentius III, mengalami
kesulitan dalam membangkitkan kembali Perang Salib diantara para ksatria
dan masyarakat Eropa yang telah bosan dan lelah berperang. Hanya Raja
Andrew dari Hungaria saja yang memutuskan berangkat namun tidak pernah
sungguh-sungguh mengambil alih Tanah Suci. Pada masa ini (1219)
Fransiskus dari Asisi mencoba untuk “memertobatkan” Sultan Al-Kamil di
Damietta dengan berdakwah selama tiga hari.
Penyerangan yang
dilakukan ke Mesir di bulan Juli 1221 dan dipimpin oleh Kardinal
Pelagius dari Spanyol serta dibantu oleh Raja John, berakhir dengan
sangat memalukan bagi Tentara Salib karena di pukul mundur diantara
endapan lumpur sungai Nil oleh tentara Sultan Al-Kamil. Namun demikian
Fransisikus dari Asisi mencoba Perang Salib cara baru dengan menyusupkan
Friar Kecilnya untuk terus berdakwah di Yerusalem.
Perang Salib VI
Kaisar Romawi Barat, Frederick II dari Apulia, penguasa Sisilia yang
kaya serta eksotik karena kecintaannya pada kebudayaan muslim yang
kontroversial, mengangkat bendera Perang Salib tahun 1227. Dengan
motifasi ingin menjadi Alexander Agung yang baru dan dibawah ancaman
pengucilan dari Paus Gregory IX. Pada waktu itu Kaisar Frederik II
mendapatkan Yerusalem, Bertlehem, Nazaret dan bagian barat Galilea
dengan jalan diplomasi dan bekerjasama dengan Sultan Al-Kamil
sahabatnya, yang bertengkar dengan saudaranya Sultan Al-Mu’azam,
penguasa dari Damaskus dan Yerusalem yang kemudian digantikan oleh
anaknya.
Tinjauan Kritis
Dari enam Perang Salib yang dilakukan
Kristen Barat terhadap orang Islam tidak ditemui suatu alasan yang
bersifat rohaniah dan prinsipil. Karena dapat dilihat bahwa sebagian
dari motifasi diserukannya Perang Salib dari waktu-waktu adalah bersifat
teritorial, ekonomi, politis dan rasa dengki terhadap kebudayaan bangsa
Timur yang lebih stabil dan lebih maju dibandingkan dengan Eropa Barat
yang saat itu tengah mencari jati diri budayanya yang masih barbar.
Dapat dilihat bahwa agama ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan
pribadi, ekonomi-perdagangan Negara, pemimpin Negara, pemimpin agama.
Peristiwa ini juga memperlihat dampak buruk jika gereja dan Negara tidak
memiliki jarak. Kepentingan Negara dan agama saling tumpang tindih dan
saling menunggangi.
Pada kenyataannya, saat Perang Salib I dengan
lantang dikumandangkan hal ini sebenarnya untuk mencegah pertumpahan
darah perang saudara yang terus menerus terjadi di daratan Eropa akibat
perebutan kekuasaan. Paus Urbanus II, menggunakan semangat bangsa Frank
untuk berperang mengambil alih Yerusalem, setelah mendengar kabar dari
para musafir yang melakukan ziarah ke Tanah Suci mengalami banyak
gangguan dan penderitaan dari penguasa sepanjang jalur tersebut yang
menganut agama Islam. Bukan hanya karena alasan tersebut namun juga
ambisi pribadinya yang hendak menjadikan satu lagi Gereja Timur dengan
Gereja Barat.
Namun seiring berjalannya waktu, nampak bahwa rasa iri
bangsa Frank terhadap kemegahan budaya dan Gereja Timur sangat
memengaruhi mereka, sehingga pada akhirnya mereka menyerang Kerajaan
Byzantium yang seharusnya akan dapat melindungi Barat dari invasi
pengaruh muslim yang mereka takuti dengan kelihaian mereka berdiplomasi
dan memanfaatkan keadaan diantara para penguasa muslim di sepanjang
perbatasan mereka.
Akibat yang ditimbulkan tindakan tanpa
perhitungan ini, yang hanya didasarkan rasa iri dan hasrat berperang
yang sepertinya tertanam dalam diri bangsa Frank, adalah semakin
lemahnya pertahanan Byzantium dari serangan bangsa Arab yang sedang
bangkit bersatu dibawah naungan agama Islam, dan juga citra buruk karena
kekejaman yang dilakukan saat mengambil alih Yerusalem dengan banjir
darah. Masyarakat muslim di Asia dan Arab menjadi takut, bahkan membenci
agama Kristen karena kesewenang-wenangan, kejam, tidak berbelas kasih
yang terukir dalam ingatan bangsa Asia dan Arab.
Sistem feodal yang
dianggap lazim bangsa Eropa dalam memerintah suatu wilayah, diterapkan
pula saat mereka menjajah Yerusalem dan sekitar. Hal ini menyebabkan
para pemimpin, bangsawan, ksatria Eropa haus akan kekuasaan dan wilayah
yang lebih luas lagi demi kepentingan serta keuntungan pribadi saja.
Peperangan yang terus menerus demi tujuan religius yang semakin lama
semakin hilang kereligiusannya malah tergantikan dengan perebutan
kekuasaan serta urusan dagang membuat rakyat yang awalnya semangat
berpartisipasi menjadi bosan dan lelah karena merasa diperdaya dan
dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan para penguasa pemerintah, dan
agama.
Tentu ada juga hal positif yaitu, pertemuan kebudayaan dan
wawasan pergaulan yang lebih luas. Karya-karya Yunani Kuno ahli-ahli
filsafat dan cendikiawan muslim membagikan pengetahuan yang selama ini
ada dalam wilayah mereka saat berinteraksi dengan golongan terpelajar
Kristen Eropa. Jalur-jalur perdagangan yang terbuka memberikan
keuntungan bagi kedua belah pihak. Orang-orang Kristen Barat menjadi
lebih halus dan berbudaya dengan belajar budaya Timur saat mereka
menguasai Yerusalem, dengan pakaian dari bahan halus, higienitas pribadi
yang semakin membaik, dan pengenalan yang lebih baik terhadap agama
Islam. Pengetahuan yang semakin dalam terhadap budaya Timur dan juga
pengenalan yang berkembang terhadap Islam membuat pendatang dari daratan
Eropa ini menjadi toleran dan saling menghargai iman masing-masing yang
ternyata tidak dapat dipahami oleh ideologi Kristen Barat yang menyusul
belakangan.
Seandainya keterbukaan pikiran terhadap sesuatu paham
atau kepercayaan yang berbeda karena latar belakang budaya dapat
dimengerti oleh Kristen Barat saat itu dengan lebih menghargai melalui
kesepakatan perdamaian yang dapat dirundingkan bersama, tentunya saat
ini citra agama Kristen akan berubah sama sekali bagi masyarakat Timur
dan dimata Islam. Sungguh sangat disayangkan, bilamana hanya untuk
pertemuan kebudayaan dan menambah wawasan harus melalui peperangan yang
berkepanjangan.
Tinjauan Teologis
Dalam Lukas 12:49-53:
49
"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan,
api itu telah menyala! 50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah
susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! 51 Kamu menyangka, bahwa
Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu,
bukan damai, melainkan pertentangan. 52 Karena mulai dari sekarang akan
ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua
dan dua melawan tiga. 53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan
anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan
anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan
menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."
Yesus datang membawa pemisahan. Apakah iman Kristen menimbulkan
perpisahan, peperangan? Memang dalam hal ini agama dapat menjadi aspek
politik yang dapat menjadi penyebab peperangan baik dalam skala nasional
maupun internasional. Bukan hanya pada perang salib saja di abad-abad
pertengahan, namun juga hingga saat ini, agama disalah gunakan dari
maksud awalnya untuk memberikan kedamaian dan keteraturan dalam hubungan
sesama manusia dan juga kepada Tuhan. Memberikan tolak ukur moral dan
tata cara berperilaku yang saling menghormati kepada yang lain. Dengan
perkataan Yesus dalam Lukas 12:49-53, seringkali ditafsirkan bahwa Iman
Kristen mengandung kekerasan yang memicu timbulnya kekerasan dalam
hubungan dengan orang lain atau bangsa lain. Dapatkah pemisahan ini
diberikan arti sebagai sikap yang lebih menghargai, menerima, memahami
dan mengasihi orang lain dengan lebih terbuka dan tingkat toleransi yang
tinggi? Dalam artian, tidak berpikiran sempit dalam memandang iman,
cara orang lain dalam beribadah berperilaku karena latar belakang
budaya, berpandangan karena tingkat pendidikan dan pengalaman hidupnya.
Bagaimana dengan pemahaman mengenai spiritualitas salib yang membawa
perdamaian? Semakin seorang Kristen beriman, kasih dan hormat tertanam
lebih kuat dalam hati dan pikiran saat bertindak dan mencegah untuk
berbuat hal-hal yang memiliki pengaruh atau dampak yang merugikan
terhadap orang lain, karena mengetahui perbuatannya akan tidak
menyenangkan tuhan yang disembahnya bila tuhannya adalah tuhan yang
menyukai kedamaian. Kesadaran untuk menciptakan kedamaian ditempat
seorang yang benar-benar beriman melalui perdamaian dengan lingkungan
sekitarnya, menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada dan
melakukan yang terbaik untuk membuat keadaan lebih baik dengan tidak
memaksakan dan mengasihi setiap orang sebagaimana seseorang ingin
dikasihi orang lain.
Galatia 3:15-29:
15 Saudara-saudara,
baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat
yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan
atau ditambahi oleh seorangpun. 16 Adapun kepada Abraham diucapkan
segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada
keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya
satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. 17 Maksudku ialah:
Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh
hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian,
sehingga janji itu hilang kekuatannya. 18 Sebab, jikalau apa yang
ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji;
tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih
karunia-Nya kepada Abraham. 19 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum
Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran sampai datang
keturunan yang dimaksud oleh janji itu dan ia disampaikan dengan
perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. 20
Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah
adalah satu. 21 Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan
janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat
diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran
berasal dari hukum Taurat. 22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala
sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus
Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. 23 Sebelum iman
itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung
sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun
bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25
Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di
bawah pengawasan penuntun. 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah
karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis
dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada
orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka,
tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di
dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu
juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
Surat Paulus bagi jemaat Galatia menjelaskan bahwa Yesus mendamaikan
Yahudi dan Yunani, hamba dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan.
Disini dapat diberikan arti luas bahwa Yesus menghendaki kedamaian,
rekonsiliasi untuk semua orang dan semua kalangan. Kesetaraan, untuk
sekali lagi menerima, menghargai, memahami dan mengasihi semua orang
dengan pikiran terbuka tanpa membedakan latar belakang budaya, suku,
kepercayaan.
Sebab justru karena sifat-sifat dasar kekristenan yaitu
kasih, hormat, penerimaan, pemahaman inilah seharusnya kedamaian selalu
tercipta dan hadir dimana seorang beriman Kristen berada; karena
keTritunggalan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, sebenarnya merupakan
lingkaran hubungan yang sempurna saling memahami, menerima, menghargai
dan mengasihi antara ketiga pribadi Allah, yang saling bekerjasama
memberikan kedamaian dan keselamatan bagi manusia. Demikian juga manusia
sebagai ciptaannya, yang beriman kepada Allah bekerjasama untuk
menciptakan kedamaian dalam lingkungannya. Dengan demikian seorang
beriman Kristen sesungguhnya meneruskan pandangan Yesus Kristus dengan
memberikan standar moral yang berbeda dari dunia yaitu berbelas kasih
dan penerimaan yang tinggi terhadap sesama karena kasih pada Allah.
Naomi Anggiasari Puji Aryatie
No comments:
Post a Comment