Monday, 25 May 2015

PERANG SALIB, SUATU TINJAUAN TEOLOGIS

Pendahuluan
Saat ini tidak banyak orang yang mengetahui apa sebenarnya yang menjadi sebab diumumkannya suatu perang yang sangat besar dimasanya. Bangsa-bangsa Eropa untuk sementara dapat mengesampingkan perbedaan yang ada diantara mereka dan bersatu untuk menggempur suatu bangsa di Timur Tengah dan Asia Kecil yang bangkit serta sedang dalam masa keemasannya dengan agama baru yang memersatukan mereka. Tujuan penulisan ini adalah untuk melihat kembali Perang Salib, alasan-alasan, akibat-akibat dan hal-hal yang terjadi ketika perang tersebut berlangsung serta tinjauan kritis yang dapat dilakukan agar barangkali dapat menjadi pelajaran dan masukan bagi gereja masa kini. Invasi yang berlangsung dari bangsa Barat ke Tanah Suci dibagi menjadi enam kelompok besar invasi.
Sekilas Tentang Perang Salib
Perang Salib I
Palestina, Siria dan Asia Kecil jatuh ke tangan orang Turki yang nota bene adalah beragama Isalam serta mengancam kebudayaan dan agama Kristen di Eropa. Akibat kekuasaan yang dimilki oleh Turki, maka orang Turki dengan leluasa mengganggu dan menyiksa para musafir Kristen yang mengunjungi tempat-tempat suci di Palestina. Hal ini terjadi kira-kira tahun 1070.
Situasi tersebut dilaporkan kepada Paus. Tahun 1095 Paus Urbanus II mengerahkan orang Kristen untuk perang suci demi merebut tanah suci dari orang Islam. Melalui khotbah-khotbah, panggilan untuk perang suci dikumandangkan. Tahun 1096 Pangeran Bohemund dari Taranto beserta kemenakannya, Tancred, memimpin pasukannya yang berasal dari kaum Frank, berangkat dari pelabuhan di wilayah Byzantium menuju Asia Kecil. Mereka adalah bangsa yang suka berperang dan dapat dikatakan masih barbar.
Banyak respon baik untuk perang suci tersebut tetapi dengan berbagai motif, yaitu; ada yang mengharapkan untung dan kehormatan, ada yang tertarik oleh cerita yang ajaib tentang daerah timur, ada yang ingin mendapat penghapusan dari hukuman dosanya (indulgensia), yang dijanjikan oleh Paus. Sedangkan dari pihak Paus sendiri perang salib dilakukan dengan tendensi untuk mengembangkan kekuasaannya di daerah timur. Perang salib oleh orang Kristen mengandung arti rohani dan dianggap sebagai suatu kebajikan besar, padahal dalam prakteknya perang salib seperti perang biasa dan perang salib tersebut tidak dengan motif untuk mengabarkan Injil kepada orang Islam atau membela kebenaran Injil. Tetapi apakah untuk mengabarkan Injil perlu di lakukan dengan kekerasan, peperangan? Apakah Injil perlu dibela kebenarannya? Dalam perang salib ini, orang Kristen mengalami kekalahan.
Perang Salib II
Dianjurkan oleh Bernhard dari Clairvaux, seorang kepala biara yang berkuasa di Eropa masa itu sebab Raja Prancis dan Paus Eugenius takluk padanya. Perang Salib kembali dianjurkan karena kerajaan Edesa di Asia Kecil (Armenia) direbut oleh orang-orang Turki. Perang ini menjadi perang paling religius karena pandangan Bernhard yang saleh dan mistis serta yang tengah menjalar di Eropa.
Penolakan Bernhard terhadap kaum muslim bukan karena kebencian terhadap agama Islam, melainkan karena ancaman pada wilayah Tanah Suci yang baginya berarti juga ancaman bagi seluruh dunia. Dalam periode ini, ketika di umat Kristen Eropa dipengaruhi oleh pandangan kesalehan mistis yang baru dari Bernhard, demikian juga yang terjadi pada awal Islam dengan gerakan mistisisme Islam berlandaskan cinta. Apa yang terjadi adalah ketika keyakinan bahwa kecerdasan dan welas asih manusia akan disingkirkan karena prinsip tindakan atas dasar keimanan. Perang Salib kedua ini berlangsung dari tahun 1157-1149. Juga orang Kristen dikalahkan.
Perang Salib III
Pemicunya adalah karena Sultan Saladin dari Mesir, yang sebelumnya dikirim oleh Sultan Nurudin dari Damaskus. Saladin menjadi tokoh pahlawan Islam yang sangat dihormati karena kesalehan, kesederhanaan, pengabdian, kerendah hatiannya dalam melakukan ajaran-ajaran islam dan menjadi pemimpin yang menyatukan kerajaan-kerajaan Islam disekeliling wilayah kekuasaan Tentara Salib.
Raja Yerusalem yaitu Baldwin IV yang memiliki keberanian dan kekuatan hati adalah penderita lepra dan sedang menghitung hari-harinya; dan dia memiliki kesulitan untuk mengontrol perilaku para baron yang haus kekuasaan dan wilayah. Namun kali ini kalah juga, Yerusalem diambil alih oleh Sultan Saladin pada tanggal 2 Otober 1187.
Raja Richard dari Inggris dan Phillip Augustus dari Prancis menyatukan kekuatan dan berangkat untuk menyelamatkan Tanah Suci, hal ini bukan merupakan suatu kebencian terhadap kaum muslim, melainkan dipandang sebagai tantangan berperang bagi Raja Richard. Dalam perang ini sisi religius yang dianggap sebagai satu motifasi besar kaum Kristen telah berpindah pada pasukan pimpinan Saladin yang dengan setia tetap mengikuti hukum Islam dalam berperang.
Perang Salib IV
Terjadi dari tahun 1202-1204. Dimulai oleh Paus Innocentius III; gerakan ini dipimpin oleh Boniface dari Montferrat, dan dia mengusulkan untuk menyerang Kairo sebagai langkah awal. Perang salib ini kemudian ditunggangi oleh motifasi untuk memajukan perniagaan Venesia yang pada waktu itu bersaing hebat dengan Hungaria, dan juga keinginan pedagang yang sangat kaya dari Venesia, Dandolo, yang menyediakan armada kapal dan bahan pangan untuk mengangkut para Tentara Salib. Alih-alih menuju Tanah Suci, Tentara Salib dimanfaatkan untuk merebut Byzantium; terjadi huru-hara di kota ini, penjarahan, kekerasan dan penghinaan yang mengakibatkan kecaman dari Paus Innocentius III.
Peperangan antara kaum Frank dan kekaisaran Timur melemahkan orang Kristen di dalam melawan orang Islam karena Kristen Barat yang dibutakan oleh keserakahan tidak dapat meniru upaya yang dilakukan para pemimpin Byzantium sebelumnya dalam menahan laju serangan muslim Turki. Byzantium kalah dan kerajaan timur diganti dengan kerajaan Latin yang disebut Rumania, namun kerajaan baru ini tidak bertahan lama. Peraturan-peraturan Gereja Timur diubah menurut adat Gereja Barat saat itu.
Perang Salib V
Paus Honorius II (1216), penerus Paus Innocentius III, mengalami kesulitan dalam membangkitkan kembali Perang Salib diantara para ksatria dan masyarakat Eropa yang telah bosan dan lelah berperang. Hanya Raja Andrew dari Hungaria saja yang memutuskan berangkat namun tidak pernah sungguh-sungguh mengambil alih Tanah Suci. Pada masa ini (1219) Fransiskus dari Asisi mencoba untuk “memertobatkan” Sultan Al-Kamil di Damietta dengan berdakwah selama tiga hari.
Penyerangan yang dilakukan ke Mesir di bulan Juli 1221 dan dipimpin oleh Kardinal Pelagius dari Spanyol serta dibantu oleh Raja John, berakhir dengan sangat memalukan bagi Tentara Salib karena di pukul mundur diantara endapan lumpur sungai Nil oleh tentara Sultan Al-Kamil. Namun demikian Fransisikus dari Asisi mencoba Perang Salib cara baru dengan menyusupkan Friar Kecilnya untuk terus berdakwah di Yerusalem.
Perang Salib VI
Kaisar Romawi Barat, Frederick II dari Apulia, penguasa Sisilia yang kaya serta eksotik karena kecintaannya pada kebudayaan muslim yang kontroversial, mengangkat bendera Perang Salib tahun 1227. Dengan motifasi ingin menjadi Alexander Agung yang baru dan dibawah ancaman pengucilan dari Paus Gregory IX. Pada waktu itu Kaisar Frederik II mendapatkan Yerusalem, Bertlehem, Nazaret dan bagian barat Galilea dengan jalan diplomasi dan bekerjasama dengan Sultan Al-Kamil sahabatnya, yang bertengkar dengan saudaranya Sultan Al-Mu’azam, penguasa dari Damaskus dan Yerusalem yang kemudian digantikan oleh anaknya.

Tinjauan Kritis
Dari enam Perang Salib yang dilakukan Kristen Barat terhadap orang Islam tidak ditemui suatu alasan yang bersifat rohaniah dan prinsipil. Karena dapat dilihat bahwa sebagian dari motifasi diserukannya Perang Salib dari waktu-waktu adalah bersifat teritorial, ekonomi, politis dan rasa dengki terhadap kebudayaan bangsa Timur yang lebih stabil dan lebih maju dibandingkan dengan Eropa Barat yang saat itu tengah mencari jati diri budayanya yang masih barbar. Dapat dilihat bahwa agama ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan pribadi, ekonomi-perdagangan Negara, pemimpin Negara, pemimpin agama. Peristiwa ini juga memperlihat dampak buruk jika gereja dan Negara tidak memiliki jarak. Kepentingan Negara dan agama saling tumpang tindih dan saling menunggangi.
Pada kenyataannya, saat Perang Salib I dengan lantang dikumandangkan hal ini sebenarnya untuk mencegah pertumpahan darah perang saudara yang terus menerus terjadi di daratan Eropa akibat perebutan kekuasaan. Paus Urbanus II, menggunakan semangat bangsa Frank untuk berperang mengambil alih Yerusalem, setelah mendengar kabar dari para musafir yang melakukan ziarah ke Tanah Suci mengalami banyak gangguan dan penderitaan dari penguasa sepanjang jalur tersebut yang menganut agama Islam. Bukan hanya karena alasan tersebut namun juga ambisi pribadinya yang hendak menjadikan satu lagi Gereja Timur dengan Gereja Barat.
Namun seiring berjalannya waktu, nampak bahwa rasa iri bangsa Frank terhadap kemegahan budaya dan Gereja Timur sangat memengaruhi mereka, sehingga pada akhirnya mereka menyerang Kerajaan Byzantium yang seharusnya akan dapat melindungi Barat dari invasi pengaruh muslim yang mereka takuti dengan kelihaian mereka berdiplomasi dan memanfaatkan keadaan diantara para penguasa muslim di sepanjang perbatasan mereka.
Akibat yang ditimbulkan tindakan tanpa perhitungan ini, yang hanya didasarkan rasa iri dan hasrat berperang yang sepertinya tertanam dalam diri bangsa Frank, adalah semakin lemahnya pertahanan Byzantium dari serangan bangsa Arab yang sedang bangkit bersatu dibawah naungan agama Islam, dan juga citra buruk karena kekejaman yang dilakukan saat mengambil alih Yerusalem dengan banjir darah. Masyarakat muslim di Asia dan Arab menjadi takut, bahkan membenci agama Kristen karena kesewenang-wenangan, kejam, tidak berbelas kasih yang terukir dalam ingatan bangsa Asia dan Arab.
Sistem feodal yang dianggap lazim bangsa Eropa dalam memerintah suatu wilayah, diterapkan pula saat mereka menjajah Yerusalem dan sekitar. Hal ini menyebabkan para pemimpin, bangsawan, ksatria Eropa haus akan kekuasaan dan wilayah yang lebih luas lagi demi kepentingan serta keuntungan pribadi saja. Peperangan yang terus menerus demi tujuan religius yang semakin lama semakin hilang kereligiusannya malah tergantikan dengan perebutan kekuasaan serta urusan dagang membuat rakyat yang awalnya semangat berpartisipasi menjadi bosan dan lelah karena merasa diperdaya dan dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan para penguasa pemerintah, dan agama.
Tentu ada juga hal positif yaitu, pertemuan kebudayaan dan wawasan pergaulan yang lebih luas. Karya-karya Yunani Kuno ahli-ahli filsafat dan cendikiawan muslim membagikan pengetahuan yang selama ini ada dalam wilayah mereka saat berinteraksi dengan golongan terpelajar Kristen Eropa. Jalur-jalur perdagangan yang terbuka memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Orang-orang Kristen Barat menjadi lebih halus dan berbudaya dengan belajar budaya Timur saat mereka menguasai Yerusalem, dengan pakaian dari bahan halus, higienitas pribadi yang semakin membaik, dan pengenalan yang lebih baik terhadap agama Islam. Pengetahuan yang semakin dalam terhadap budaya Timur dan juga pengenalan yang berkembang terhadap Islam membuat pendatang dari daratan Eropa ini menjadi toleran dan saling menghargai iman masing-masing yang ternyata tidak dapat dipahami oleh ideologi Kristen Barat yang menyusul belakangan.
Seandainya keterbukaan pikiran terhadap sesuatu paham atau kepercayaan yang berbeda karena latar belakang budaya dapat dimengerti oleh Kristen Barat saat itu dengan lebih menghargai melalui kesepakatan perdamaian yang dapat dirundingkan bersama, tentunya saat ini citra agama Kristen akan berubah sama sekali bagi masyarakat Timur dan dimata Islam. Sungguh sangat disayangkan, bilamana hanya untuk pertemuan kebudayaan dan menambah wawasan harus melalui peperangan yang berkepanjangan.

Tinjauan Teologis
Dalam Lukas 12:49-53:
49 "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! 50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! 51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. 52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. 53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."
Yesus datang membawa pemisahan. Apakah iman Kristen menimbulkan perpisahan, peperangan? Memang dalam hal ini agama dapat menjadi aspek politik yang dapat menjadi penyebab peperangan baik dalam skala nasional maupun internasional. Bukan hanya pada perang salib saja di abad-abad pertengahan, namun juga hingga saat ini, agama disalah gunakan dari maksud awalnya untuk memberikan kedamaian dan keteraturan dalam hubungan sesama manusia dan juga kepada Tuhan. Memberikan tolak ukur moral dan tata cara berperilaku yang saling menghormati kepada yang lain. Dengan perkataan Yesus dalam Lukas 12:49-53, seringkali ditafsirkan bahwa Iman Kristen mengandung kekerasan yang memicu timbulnya kekerasan dalam hubungan dengan orang lain atau bangsa lain. Dapatkah pemisahan ini diberikan arti sebagai sikap yang lebih menghargai, menerima, memahami dan mengasihi orang lain dengan lebih terbuka dan tingkat toleransi yang tinggi? Dalam artian, tidak berpikiran sempit dalam memandang iman, cara orang lain dalam beribadah berperilaku karena latar belakang budaya, berpandangan karena tingkat pendidikan dan pengalaman hidupnya.
Bagaimana dengan pemahaman mengenai spiritualitas salib yang membawa perdamaian? Semakin seorang Kristen beriman, kasih dan hormat tertanam lebih kuat dalam hati dan pikiran saat bertindak dan mencegah untuk berbuat hal-hal yang memiliki pengaruh atau dampak yang merugikan terhadap orang lain, karena mengetahui perbuatannya akan tidak menyenangkan tuhan yang disembahnya bila tuhannya adalah tuhan yang menyukai kedamaian. Kesadaran untuk menciptakan kedamaian ditempat seorang yang benar-benar beriman melalui perdamaian dengan lingkungan sekitarnya, menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada dan melakukan yang terbaik untuk membuat keadaan lebih baik dengan tidak memaksakan dan mengasihi setiap orang sebagaimana seseorang ingin dikasihi orang lain.
Galatia 3:15-29:
15 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorangpun. 16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. 17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. 18 Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. 19 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. 20 Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. 21 Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. 22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. 23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
Surat Paulus bagi jemaat Galatia menjelaskan bahwa Yesus mendamaikan Yahudi dan Yunani, hamba dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan. Disini dapat diberikan arti luas bahwa Yesus menghendaki kedamaian, rekonsiliasi untuk semua orang dan semua kalangan. Kesetaraan, untuk sekali lagi menerima, menghargai, memahami dan mengasihi semua orang dengan pikiran terbuka tanpa membedakan latar belakang budaya, suku, kepercayaan.
Sebab justru karena sifat-sifat dasar kekristenan yaitu kasih, hormat, penerimaan, pemahaman inilah seharusnya kedamaian selalu tercipta dan hadir dimana seorang beriman Kristen berada; karena keTritunggalan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, sebenarnya merupakan lingkaran hubungan yang sempurna saling memahami, menerima, menghargai dan mengasihi antara ketiga pribadi Allah, yang saling bekerjasama memberikan kedamaian dan keselamatan bagi manusia. Demikian juga manusia sebagai ciptaannya, yang beriman kepada Allah bekerjasama untuk menciptakan kedamaian dalam lingkungannya. Dengan demikian seorang beriman Kristen sesungguhnya meneruskan pandangan Yesus Kristus dengan memberikan standar moral yang berbeda dari dunia yaitu berbelas kasih dan penerimaan yang tinggi terhadap sesama karena kasih pada Allah.

Naomi Anggiasari Puji Aryatie

No comments:

Post a Comment