Monday, 25 May 2015

Feminist Christology (New taste of my faith)

I. PENDAHULUAN
Perempuan seringkali diposisikan kedudukan yang lebih rendah dari Laki-laki, hal ini banyak terdapat serta dijumpai dalam berbagai kebudayaan dibelahan dunia manapun; bahkan saat modernisasi yang menyentuh banyak bidang dan sisi kehidupan yang lain, ketidaksetaraan masih sering terjadi dalam berbagai hal. Perempuan menjadi golongan kelas ke-dua dibandingkan dengan Laki-laki yang nampaknya menjadi ciptaan yang paling sempurna dan unggul diatas ciptaan yang lain, bukan hanya dalam kebudayaan akan tetapi juga dalam hal agama, yang seolah-olah membenarkan ketidaksetaraan antara Laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini Agama Kristen juga tidak luput dari budaya patriarkal, hal ini nampak seperti dalam surat Paulus kepada jemaat Korintus (I Kor 11:3 kepala dari perempuan ialah laki-laki) sehingga kerap menjadi justifikasi untuk perlakuan ketidaksetaraan yang terjadi hingga saat ini, menuntut penundukan penuh perempuan pada Laki-laki. Beberapa teolog feminis, seperti Cady Stanton berpendapat bahwa ajaran-ajaran Paulus mengindikasikan seksis bahkan yang telah terlihat dimasa awal Kekristenan; dalam lingkungan Kristen yang menggaungkan kasih dan kemanusiaan yang begitu agung sehingga hal ini menjadi ironi bila dilihat. Teologi feminis sendiri di golongkan menjadi dua, yaitu: Aliran revolusioner yang di ciptakan oleh perempuan-perempuan yang telah menyelidiki tradisi Kristen dan berkesimpulan bahwa tradisi-tradisi yang ada di dominasi oleh laki-laki serta tidak dapat memberikan harapan akan perbaikan; sehingga mereka memilih untuk keluar dari Gereja dan menyapa Allah dengan Dewi. Sedangkan Aliran reformis tetap memiliki harapan bahwa tradisi Kristen dapat dirubah karena memiliki unsur pembebasan yang kuat; mereka memilih untuk tetap tinggal di gereja dan berjuang mengadakan pembaruan. Meski banyak teolog feminis mengatakan bahwa Alkitab sarat dengan unsur-unsur seksis yang menjunjung budaya patriarkal dan androsentris dikarenakan metode penafsiran yang diterapkan menurut Frances Willard. Demikian pula Cady Stanton mengatakan nampaknya penafsiran para cendekiawan terhadap Alkitab merupakan inspirasi Laki-laki sehingga perlu di “depatriarchalized”. Tambahnya dengan kentalnya unsur-unsur patriarkal dan androsentris yang ada dalam Alkitab merupakan akibat buruknya penafsiran sehingga Alkitab dapat digunakan dalam permasalahan politik untuk menentang penderitaan perempuan.

II. KRISTOLOGI FEMINIS
Dalam bagian ini penulis ingin mengetahui bagaimana pandangan feminis mengenai Yesus Kristus. Para penulis Perjanjian Baru bukan hanya peduli ingin melakukan apa yang Yesus telah lakukan dan katakan tetapi mereka berniat untuk ingin lebih memahami apa yang Yesus maksudkan bagi pengikut-pengikut pertamanya dan memiliki arti apa hidup Yesus di masanya dan dalam lingkungan masyarakatnya. Sehingga Yesus yang saat ini kita kenal gambarannya melalui Injil yang kita baca telah melalui proses transmisi dan redaksi dalam sudut pandang Laki-laki; gambaran Yesus ini haruslah di renungkan, kemudian di diskusikan, di tafsirkan, di terima maupun di tolak untuk memahami impuls dan pentingnya kehidupan Yesus. Sejauh ini Injil melihat perempuan dalam kehidupan Yesus hanyalah sepintas lalu saja, mengenai perempuan-perempuan yang ada dalam kehidupan Yesus dalam sejarah, dan saat itu terjadi kisah yang disampaikan tersebut memperlihatkan komunitas masyarakat yang kepadanya kisah tersebut disampaikan. Sudah saatnya penafsiran dari sudut pandang perempuan sesuai dengan pengalaman imannya mendalami personifikasi Allah yang lain yang memedulikan perempuan. Yang membedakan gerakan Yesus yang ada di Palestina ialah Yesus pengajaran berpusat pada pemberitaan Kerajaan Allah, namun tradisi Injil di masa tulisan pra-Pauline, Pauline dan paska-Pauline merupakan proklamasi kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang terlihat jelas didalamnya. Sehingga paradigma ingatan Injil terhadap Yesus sendiri bukanlah hal yang komprehensif mengenai Yesus sejarah namun merupakan ekspresi komunitas dan individual yang mencoba mengatakan Yesus signifikansi dalam situasi yang mereka hadapi saat Injil ditulis; yang pada masa keemasan budaya Grecko-Hellenis berusaha menembus unsur-unsur patriarkal yang androsentris dengan pandangan-pandangan Yesus sebagai suatu agama baru dan dianggap suatu bidat dari agama Yahudi yang terkenal dengan monoteismenya diantara kebudayaan politeisme yang umum saat itu. Sebagai suatu agama baru yang berasal dari agama Yahudi, namun agama Yahudi bukanlah bagian integral dari gerakan Yesus—meskipun Yesus dan rasul-rasulnya merupakan pemeluk agama Yahudi yang taat—karena mengusung pembaruan. Sebab pada awal masa pertumbuhan perempuan-perempuan Yahudi pun menjadi pembawa berita Injil setara dengan murid-murid laki-laki Yesus. Sehingga masalahnya apakah Yesus Kristus mengubah budaya patriarki? Sumber Q pada Injil Lukas 7:22 “22 Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”, menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis dan menegaskan bahwa Yesus mengembalikan kemanusiaan melalui perbuatan-perbuatannya sambil mewartakan Kerajaan Allah. Bagi Yesus Kerajaan Allah bukanlah diukur dari kesucian dan kemurnian dalam menjalankan hukum Taurat, namun merupakan keutuhan citra diri (self-image) manusia. Yesus menjadi mediasi bagi mereka yang dipandang rendah dan hina karena kemiskinan, sakit pekerjaan dan bahkan karena menjadi perempuan itu sendiri. Praxis and vision Yesus mengenai Kerajaan Allah merupakan mediasi terhadap masa depan bagi Allah dalam struktur dan pengalamannya di masanya dan bagi masyarakat saat itu. Pergaulan Yesus yang meliputi “pemungut cukai, pendosa, dan pelacur” sangatlah mengundang kontroversi di antara kaum Farisi. Pelacur di masa itu adalah para perempuan yang tidak memiliki keahlian, menjadi budak, atau dijual/disewakan oleh orangtua maupun suami mereka, perempuan miskin, janda, orangtua tunggal, tawanan, perempuan yang di beli untuk tentara, dan lainnya. Perempuan-perempuan ini adalah mereka yang tidak dapat meraih posisi dalam keluarga patriarkal ataupun mereka yang bekerja namun tidak berada di golongan atas atau menengah dalam hal profesi. Yesus mengundang semua orang untuk ikut serta masuk dalam pandangannya mengenai Kerajaan Allah tanpa terkecuali bahkan wanita dan pelacur, karena untuk Yesus yang terutama adalah keutuhan seseorang; pribadi yang utuh, sehat, kuat dan tahir. Saat Yesus mengusir roh jahat dalam diri seorang perempuan yang kerasukan tujuh setan (Maria Magdalena; pra-Lukan), Yesus mengembalikan keutuhan pribadi perempuan itu, mengembalikan kemanusiaannya sehingga hadirat dan kuasa Allah nampak. Dalam perumpamaannya pun Yesus banyak menggunakan gambaran perempuan. Bagaimana sebenarnya bentuk gerakan Yesus dalam budaya patriarkal?
Matius 5:3 “3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Saat itu miskin bagi bangsa Israel dianggap sebagai akibat dari ketidak-adilan, dan Allah Israel adalah Allah yang adil, dan Allah ada di pihak orang miskin serta akan membela hak mereka dan membawa perkara mereka, yang diantara orang miskin itu adalah para perempuan yang hidup dibawah belas kasihan kerabat; mereka yang kaya telah mendapat hak mereka dibumi. Sehingga Yesus memandang hidup dibumi dan hidup dalam Kerajaan Allah merupakan suatu kontinuitas yang utuh.
Markus 5:25-28 “25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. 27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. 28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."”
Dalam kisah perempuan ini, keadaan ekonominya yang miskin akibat pendarahan yang dideritanya; tetapi juga bahwa perempuan ini menjadi tercemar dengan keadaannya yang tidak tahir
(Imamat 15:19-31, 33: “19 Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam. 20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. … 31 Begitulah kamu harus menghindarkan orang Israel dari kenajisannya, supaya mereka jangan mati di dalam kenajisannya, bila mereka menajiskan Kemah Suci-Ku yang ada di tengah-tengah mereka itu."… 33 dan tentang seorang perempuan yang bercemar kain dan tentang seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengeluarkan lelehan, dan tentang laki-laki yang tidur dengan perempuan yang najis.”) melainkan juga mencemari setiap orang dan setiap barang yang disentuh olehnya. Selama dua belas tahun perempuan ini menjadi cemar sehingga diasingkan dari “umat yang kudus”. Ketika Yesus menyembuhkan perempuan ini, maka Yesus memulihakan citra dirinya dan menjadikannya utuh sebagai manusia yang tahir. Demikian pula ketika Yesus menajiskan dirinya dengan menyentuh orang mati, yaitu anak perempuan dari Yairus
(Lukas 8: 49b-56 : “… Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!" 50 Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: "Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat." 51 Setibanya di rumah Yairus. Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: "Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur." 53 Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. 54 Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: "Hai anak bangunlah!" 55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. 56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.), seorang kepala rumah ibadah/sinagoga, namun kuasa Kerajaan Allah tidaklah tinggal diam pada kenajisan sehingga anak perempuan itu bangkit dan berjalan menjadi perempuan dewasa (karena usia menikah gadis Yahudi kala itu adalah 12 tahun).
Yesus “memberikan hidup baru” bagi kedua perempuan ini. Kedua perempuan ini yang dianggap najis karena mengalami satu fase, perempuan pertama pendarahan menstruasi perempuan kedua menyambut awal masa menstruasi, dipulihkan dari kenajisannya karena darah menstruasi yang keluar dari perempuan bukanlah sesuatu yang buruk melainkan dapat menciptakan kehidupan. KetikaYesus menyembuhkan seorang perempuan bungkuk pada hari Sabat
(Lukas 13:10-17: “10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. 12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." 13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, …”) merupakan pelanggaran berat bagi agama Yahudi, hal ini dilakukan Yesus bukan hanya untuk membebaskan perempuan tersebut dari sakitnya, melainkan juga terutama untuk menjadikan citra perempuan itu “utuh” kembali menjadi anggota “umat Israel yang dikuduskan” keturunan Abraham yang diakui. Gerakan Yesus ini memberikan penjelasan terhadap pemahaman yang berbeda mengenai Allah yang selam ini dikenal umat Yahudi masa itu. Pengalaman-pengalaman Yesus dalam pelayanannya yang memberikan kasih-inklusif Allah yang menyeluruh, (Matius 5:45b) “…yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Allah ini adalah Allah yang murah hati, dan baik yang menerima setiap orang dan memberikan keadilan serta kehidupan bagi setiap orang tanpa kecuali, yang menerima seluruh anggota bangsa Israel teristimewa mereka yang miskin, cacat, terbuang, pendosa dan pelacur. Tradisi awal Yesus memahami Allah sebagai kebaikan yang penuh kemurahan hati dalam kata feminine Kebijaksanaan (Sophia) ilahi (Lukas 7:35 “Sophia is justified by all her children”. Allah-Sophia dari Yesus ini mengakui serta menerima seluruh umat Israel tanpa perkecualian sebagai her children dan terbukti “benar”. Yesus-Sophia dibenarkan karena segala perbuatannya seturut kehendak Allah Sophia, Ibu-Nya .
Lukas 13:34 “34 Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”
Bacaan ini menunjukkan saat Allah-Sophia meratapi utusan-utusannya yang lain yang dibunuh dan pelayanan Yesus-Sophia yang berusaha untuk merangkul umat Israel bagai induk ayam merangkul anak-anaknya dibawah sayapnya. Namun sayangnya segenap kasih dan kelembutan Sophia ini ditolak. Misi dan pelayanan Yesus adalah untuk memberitahukan bahwa Allah adalah Allah bagi mereka yang miskin, menderita ketidak-adilan, terbuang, dan menderita dan salah satu kelompok ini adalah kaum perempuan. Mengembalikan ke-utuhan citra diri mereka, kaum kelas dua, dan memulihkan kemanusiaan menjadi anggota “umat yang kudus”. Yesus memberitakan Allah-Sophia dan sebagai anak-Nya, Ia mengumpulkan anak-anakNya kepada Allah-Sophia yang murah hati.

III. PENUTUP
Kristologi feminis menemukan satu sisi Yesus yang karena sistem patriarkal dan dominasi kaum laki-laki menjadi terselubung akan sifat Allah yang lain. Tokoh yang penuh kasih dan kemurah-hatiannya mengasihi dalam bentuk personifikasi Sophia yang memang melekat pada Allah. Allah Sophia merupakan satu personifikasi yang begitu akrab dengan penderitaan kaum perempuan yang mengutus anakNya Yesus untuk memberitakan bahwa Allah yang mencipta dan memberi hidup serta kebijaksanaan bagi siapa saja yang memintanya, yang mengajarkan misteri dunia yang tersembunyi dan melindungi, menebus serta menegakkan keadilan juga membela kaum miskin, tertindas, terbuang, hina. Yesus yang penuh kebijaksanaan berperilaku sesuai teladan Sophia sendiri sehingga melekat gelar Yesus Sophia; ketika direndahkan dengan disalibkan, Ia dimuliakan karena perbuatannya. Suatu pendekatan feminis yang mendeskripsikan pribadi unik yang kompleks dari Yesus Sophia.

IV. DAFTAR PUSTAKA
1. Drane, John, Memahami Perjanjian Baru: pengantar historis-teologis, BPK. Gunung Mulia, Jakarta, 2001.
2. Fiorenza, Elizabeth Schüssler, In Memory of Her; A feminist Theological Reconstruction of Christian Origins, The Crossroad Publishing Company, New York, 1983.
3. Johnson, Elizabeth A., Kristologi di Mata Kaum Feminis; Gelombang Pembaharuan dalam Kristologi, Kanisius, Jogjakarta, 2003.
4. Johnson, Elizabeth A., She who is; The Mystery of God in Feminist Theological Discourse, The Crossroad Publishing Company, New York, 1996.
5. Bibleworks 6, Alkitab Bahasa Sehari-hari, 2003.

No comments:

Post a Comment