I. PENDAHULUAN
Perempuan seringkali
diposisikan kedudukan yang lebih rendah dari Laki-laki, hal ini banyak
terdapat serta dijumpai dalam berbagai kebudayaan dibelahan dunia
manapun; bahkan saat modernisasi yang menyentuh banyak bidang dan sisi
kehidupan yang lain, ketidaksetaraan masih sering terjadi dalam berbagai
hal. Perempuan menjadi golongan kelas ke-dua dibandingkan dengan
Laki-laki yang nampaknya menjadi ciptaan yang paling sempurna dan unggul
diatas ciptaan yang lain, bukan hanya dalam kebudayaan akan tetapi juga
dalam hal agama, yang seolah-olah membenarkan ketidaksetaraan antara
Laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini Agama Kristen juga tidak luput
dari budaya patriarkal, hal ini nampak seperti dalam surat Paulus kepada
jemaat Korintus (I Kor 11:3 kepala dari perempuan ialah laki-laki)
sehingga kerap menjadi justifikasi untuk perlakuan ketidaksetaraan yang
terjadi hingga saat ini, menuntut penundukan penuh perempuan pada
Laki-laki. Beberapa teolog feminis, seperti Cady Stanton berpendapat
bahwa ajaran-ajaran Paulus mengindikasikan seksis bahkan yang telah
terlihat dimasa awal Kekristenan; dalam lingkungan Kristen yang
menggaungkan kasih dan kemanusiaan yang begitu agung sehingga hal ini
menjadi ironi bila dilihat. Teologi feminis sendiri di golongkan menjadi
dua, yaitu: Aliran revolusioner yang di ciptakan oleh
perempuan-perempuan yang telah menyelidiki tradisi Kristen dan
berkesimpulan bahwa tradisi-tradisi yang ada di dominasi oleh laki-laki
serta tidak dapat memberikan harapan akan perbaikan; sehingga mereka
memilih untuk keluar dari Gereja dan menyapa Allah dengan Dewi.
Sedangkan Aliran reformis tetap memiliki harapan bahwa tradisi Kristen
dapat dirubah karena memiliki unsur pembebasan yang kuat; mereka memilih
untuk tetap tinggal di gereja dan berjuang mengadakan pembaruan. Meski
banyak teolog feminis mengatakan bahwa Alkitab sarat dengan unsur-unsur
seksis yang menjunjung budaya patriarkal dan androsentris dikarenakan
metode penafsiran yang diterapkan menurut Frances Willard. Demikian pula
Cady Stanton mengatakan nampaknya penafsiran para cendekiawan terhadap
Alkitab merupakan inspirasi Laki-laki sehingga perlu di
“depatriarchalized”. Tambahnya dengan kentalnya unsur-unsur patriarkal
dan androsentris yang ada dalam Alkitab merupakan akibat buruknya
penafsiran sehingga Alkitab dapat digunakan dalam permasalahan politik
untuk menentang penderitaan perempuan.
II. KRISTOLOGI FEMINIS
Dalam
bagian ini penulis ingin mengetahui bagaimana pandangan feminis
mengenai Yesus Kristus. Para penulis Perjanjian Baru bukan hanya peduli
ingin melakukan apa yang Yesus telah lakukan dan katakan tetapi mereka
berniat untuk ingin lebih memahami apa yang Yesus maksudkan bagi
pengikut-pengikut pertamanya dan memiliki arti apa hidup Yesus di
masanya dan dalam lingkungan masyarakatnya. Sehingga Yesus yang saat ini
kita kenal gambarannya melalui Injil yang kita baca telah melalui
proses transmisi dan redaksi dalam sudut pandang Laki-laki; gambaran
Yesus ini haruslah di renungkan, kemudian di diskusikan, di tafsirkan,
di terima maupun di tolak untuk memahami impuls dan pentingnya kehidupan
Yesus. Sejauh ini Injil melihat perempuan dalam kehidupan Yesus
hanyalah sepintas lalu saja, mengenai perempuan-perempuan yang ada dalam
kehidupan Yesus dalam sejarah, dan saat itu terjadi kisah yang
disampaikan tersebut memperlihatkan komunitas masyarakat yang kepadanya
kisah tersebut disampaikan. Sudah saatnya penafsiran dari sudut pandang
perempuan sesuai dengan pengalaman imannya mendalami personifikasi Allah
yang lain yang memedulikan perempuan. Yang membedakan gerakan Yesus
yang ada di Palestina ialah Yesus pengajaran berpusat pada pemberitaan
Kerajaan Allah, namun tradisi Injil di masa tulisan pra-Pauline, Pauline
dan paska-Pauline merupakan proklamasi kematian dan kebangkitan Yesus
Kristus yang terlihat jelas didalamnya. Sehingga paradigma ingatan Injil
terhadap Yesus sendiri bukanlah hal yang komprehensif mengenai Yesus
sejarah namun merupakan ekspresi komunitas dan individual yang mencoba
mengatakan Yesus signifikansi dalam situasi yang mereka hadapi saat
Injil ditulis; yang pada masa keemasan budaya Grecko-Hellenis berusaha
menembus unsur-unsur patriarkal yang androsentris dengan
pandangan-pandangan Yesus sebagai suatu agama baru dan dianggap suatu
bidat dari agama Yahudi yang terkenal dengan monoteismenya diantara
kebudayaan politeisme yang umum saat itu. Sebagai suatu agama baru yang
berasal dari agama Yahudi, namun agama Yahudi bukanlah bagian integral
dari gerakan Yesus—meskipun Yesus dan rasul-rasulnya merupakan pemeluk
agama Yahudi yang taat—karena mengusung pembaruan. Sebab pada awal masa
pertumbuhan perempuan-perempuan Yahudi pun menjadi pembawa berita Injil
setara dengan murid-murid laki-laki Yesus. Sehingga masalahnya apakah
Yesus Kristus mengubah budaya patriarki? Sumber Q pada Injil Lukas 7:22
“22 Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes
apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh
berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati
dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”, menjawab
pertanyaan Yohanes Pembaptis dan menegaskan bahwa Yesus mengembalikan
kemanusiaan melalui perbuatan-perbuatannya sambil mewartakan Kerajaan
Allah. Bagi Yesus Kerajaan Allah bukanlah diukur dari kesucian dan
kemurnian dalam menjalankan hukum Taurat, namun merupakan keutuhan citra
diri (self-image) manusia. Yesus menjadi mediasi bagi mereka yang
dipandang rendah dan hina karena kemiskinan, sakit pekerjaan dan bahkan
karena menjadi perempuan itu sendiri. Praxis and vision Yesus mengenai
Kerajaan Allah merupakan mediasi terhadap masa depan bagi Allah dalam
struktur dan pengalamannya di masanya dan bagi masyarakat saat itu.
Pergaulan Yesus yang meliputi “pemungut cukai, pendosa, dan pelacur”
sangatlah mengundang kontroversi di antara kaum Farisi. Pelacur di masa
itu adalah para perempuan yang tidak memiliki keahlian, menjadi budak,
atau dijual/disewakan oleh orangtua maupun suami mereka, perempuan
miskin, janda, orangtua tunggal, tawanan, perempuan yang di beli untuk
tentara, dan lainnya. Perempuan-perempuan ini adalah mereka yang tidak
dapat meraih posisi dalam keluarga patriarkal ataupun mereka yang
bekerja namun tidak berada di golongan atas atau menengah dalam hal
profesi. Yesus mengundang semua orang untuk ikut serta masuk dalam
pandangannya mengenai Kerajaan Allah tanpa terkecuali bahkan wanita dan
pelacur, karena untuk Yesus yang terutama adalah keutuhan seseorang;
pribadi yang utuh, sehat, kuat dan tahir. Saat Yesus mengusir roh jahat
dalam diri seorang perempuan yang kerasukan tujuh setan (Maria
Magdalena; pra-Lukan), Yesus mengembalikan keutuhan pribadi perempuan
itu, mengembalikan kemanusiaannya sehingga hadirat dan kuasa Allah
nampak. Dalam perumpamaannya pun Yesus banyak menggunakan gambaran
perempuan. Bagaimana sebenarnya bentuk gerakan Yesus dalam budaya
patriarkal?
Matius 5:3 “3 "Berbahagialah orang yang miskin di
hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Saat itu
miskin bagi bangsa Israel dianggap sebagai akibat dari ketidak-adilan,
dan Allah Israel adalah Allah yang adil, dan Allah ada di pihak orang
miskin serta akan membela hak mereka dan membawa perkara mereka, yang
diantara orang miskin itu adalah para perempuan yang hidup dibawah belas
kasihan kerabat; mereka yang kaya telah mendapat hak mereka dibumi.
Sehingga Yesus memandang hidup dibumi dan hidup dalam Kerajaan Allah
merupakan suatu kontinuitas yang utuh.
Markus 5:25-28 “25 Adalah
di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita
pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib,
sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali
tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. 27 Dia
sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang
banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. 28
Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."”
Dalam
kisah perempuan ini, keadaan ekonominya yang miskin akibat pendarahan
yang dideritanya; tetapi juga bahwa perempuan ini menjadi tercemar
dengan keadaannya yang tidak tahir
(Imamat 15:19-31, 33: “19
Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu
adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar
kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai
matahari terbenam. 20 Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar
kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis
juga. … 31 Begitulah kamu harus menghindarkan orang Israel dari
kenajisannya, supaya mereka jangan mati di dalam kenajisannya, bila
mereka menajiskan Kemah Suci-Ku yang ada di tengah-tengah mereka itu."…
33 dan tentang seorang perempuan yang bercemar kain dan tentang
seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengeluarkan lelehan,
dan tentang laki-laki yang tidur dengan perempuan yang najis.”)
melainkan juga mencemari setiap orang dan setiap barang yang disentuh
olehnya. Selama dua belas tahun perempuan ini menjadi cemar sehingga
diasingkan dari “umat yang kudus”. Ketika Yesus menyembuhkan perempuan
ini, maka Yesus memulihakan citra dirinya dan menjadikannya utuh sebagai
manusia yang tahir. Demikian pula ketika Yesus menajiskan dirinya
dengan menyentuh orang mati, yaitu anak perempuan dari Yairus
(Lukas
8: 49b-56 : “… Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari
keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, jangan
lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!" 50 Tetapi Yesus mendengarnya dan
berkata kepada Yairus: "Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan
selamat." 51 Setibanya di rumah Yairus. Yesus tidak memperbolehkan
seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus
dan ayah anak itu serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi
anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: "Jangan menangis; ia tidak mati,
tetapi tidur." 53 Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak
itu telah mati. 54 Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru,
kata-Nya: "Hai anak bangunlah!" 55 Maka kembalilah roh anak itu dan
seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi
anak itu makan. 56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus
melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi
itu.), seorang kepala rumah ibadah/sinagoga, namun kuasa Kerajaan Allah
tidaklah tinggal diam pada kenajisan sehingga anak perempuan itu bangkit
dan berjalan menjadi perempuan dewasa (karena usia menikah gadis Yahudi
kala itu adalah 12 tahun).
Yesus “memberikan hidup baru” bagi
kedua perempuan ini. Kedua perempuan ini yang dianggap najis karena
mengalami satu fase, perempuan pertama pendarahan menstruasi perempuan
kedua menyambut awal masa menstruasi, dipulihkan dari kenajisannya
karena darah menstruasi yang keluar dari perempuan bukanlah sesuatu yang
buruk melainkan dapat menciptakan kehidupan. KetikaYesus menyembuhkan
seorang perempuan bungkuk pada hari Sabat
(Lukas 13:10-17: “10
Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada
hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas
tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak
dapat berdiri lagi dengan tegak. 12 Ketika Yesus melihat perempuan itu,
Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah
sembuh." 13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan
seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 14
Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada
hari Sabat, …”) merupakan pelanggaran berat bagi agama Yahudi, hal ini
dilakukan Yesus bukan hanya untuk membebaskan perempuan tersebut dari
sakitnya, melainkan juga terutama untuk menjadikan citra perempuan itu
“utuh” kembali menjadi anggota “umat Israel yang dikuduskan” keturunan
Abraham yang diakui. Gerakan Yesus ini memberikan penjelasan terhadap
pemahaman yang berbeda mengenai Allah yang selam ini dikenal umat Yahudi
masa itu. Pengalaman-pengalaman Yesus dalam pelayanannya yang
memberikan kasih-inklusif Allah yang menyeluruh, (Matius 5:45b) “…yang
menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan
menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”
Allah ini adalah Allah yang murah hati, dan baik yang menerima setiap
orang dan memberikan keadilan serta kehidupan bagi setiap orang tanpa
kecuali, yang menerima seluruh anggota bangsa Israel teristimewa mereka
yang miskin, cacat, terbuang, pendosa dan pelacur. Tradisi awal Yesus
memahami Allah sebagai kebaikan yang penuh kemurahan hati dalam kata
feminine Kebijaksanaan (Sophia) ilahi (Lukas 7:35 “Sophia is justified
by all her children”. Allah-Sophia dari Yesus ini mengakui serta
menerima seluruh umat Israel tanpa perkecualian sebagai her children dan
terbukti “benar”. Yesus-Sophia dibenarkan karena segala perbuatannya
seturut kehendak Allah Sophia, Ibu-Nya .
Lukas 13:34 “34
Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari
dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu
mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan
anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”
Bacaan ini
menunjukkan saat Allah-Sophia meratapi utusan-utusannya yang lain yang
dibunuh dan pelayanan Yesus-Sophia yang berusaha untuk merangkul umat
Israel bagai induk ayam merangkul anak-anaknya dibawah sayapnya. Namun
sayangnya segenap kasih dan kelembutan Sophia ini ditolak. Misi dan
pelayanan Yesus adalah untuk memberitahukan bahwa Allah adalah Allah
bagi mereka yang miskin, menderita ketidak-adilan, terbuang, dan
menderita dan salah satu kelompok ini adalah kaum perempuan.
Mengembalikan ke-utuhan citra diri mereka, kaum kelas dua, dan
memulihkan kemanusiaan menjadi anggota “umat yang kudus”. Yesus
memberitakan Allah-Sophia dan sebagai anak-Nya, Ia mengumpulkan
anak-anakNya kepada Allah-Sophia yang murah hati.
III. PENUTUP
Kristologi
feminis menemukan satu sisi Yesus yang karena sistem patriarkal dan
dominasi kaum laki-laki menjadi terselubung akan sifat Allah yang lain.
Tokoh yang penuh kasih dan kemurah-hatiannya mengasihi dalam bentuk
personifikasi Sophia yang memang melekat pada Allah. Allah Sophia
merupakan satu personifikasi yang begitu akrab dengan penderitaan kaum
perempuan yang mengutus anakNya Yesus untuk memberitakan bahwa Allah
yang mencipta dan memberi hidup serta kebijaksanaan bagi siapa saja yang
memintanya, yang mengajarkan misteri dunia yang tersembunyi dan
melindungi, menebus serta menegakkan keadilan juga membela kaum miskin,
tertindas, terbuang, hina. Yesus yang penuh kebijaksanaan berperilaku
sesuai teladan Sophia sendiri sehingga melekat gelar Yesus Sophia;
ketika direndahkan dengan disalibkan, Ia dimuliakan karena perbuatannya.
Suatu pendekatan feminis yang mendeskripsikan pribadi unik yang
kompleks dari Yesus Sophia.
IV. DAFTAR PUSTAKA
1. Drane, John, Memahami Perjanjian Baru: pengantar historis-teologis, BPK. Gunung Mulia, Jakarta, 2001.
2.
Fiorenza, Elizabeth Schüssler, In Memory of Her; A feminist Theological
Reconstruction of Christian Origins, The Crossroad Publishing Company,
New York, 1983.
3. Johnson, Elizabeth A., Kristologi di Mata Kaum Feminis; Gelombang Pembaharuan dalam Kristologi, Kanisius, Jogjakarta, 2003.
4.
Johnson, Elizabeth A., She who is; The Mystery of God in Feminist
Theological Discourse, The Crossroad Publishing Company, New York, 1996.
5. Bibleworks 6, Alkitab Bahasa Sehari-hari, 2003.
No comments:
Post a Comment