Monday, 2 July 2012

Sebuah Prolog



“Kamu selalu saja bikin aku tersudut! Kenapa sih kamu gak jujur bilang dari awal sama mereka, aku nggak tahu mesti gimana??” Talitha, membuka pintu mobil dengan marah dan siap untuk melangkah keluar. Wajahnya memerah menahan amarah dan air mata, seluruh tubuhnya terasa gemetar karena kesedihan yang dia rasakan.
“Talitha, tunggu dulu...” tangan yang dulu sangat dirindukan Talitha untuk menentramkan keresahannya kini menahan lengannya yang gemetar dengan erat, mencengkeramnya, bahkan nyaris menyakitinya. Namun Talitha seolah tidak merasakannya, dia menatap pemilik tangan itu dan siap untuk meledakkan emosinya bertopeng kemarahan yang sedang memuncak.
“Apalagi sekarang? Kalau kamu mau ngomong, lebih baik cepat sebelum aku berteriak, dan orang rumah keluar semua.” Talitha merendahkan nada suaranya yang penuh kemarahan tetapi dia tidak merubah posisi duduknya dengan sebelah kaki berada diluar mobil.
“Aku minta maaf, aku salah. Seharusnya memang tidak berjalan seperti ini, aku nggak ngira reaksi mereka akan seperti itu ke kamu... apalagi Papa.” Suara lelaki ini, cinta pertama Talitha memohon kepadanya; kedua tangan pria itu memegang wajahnya dengan penuh kelembutan, pandangannya meminta maaf dengan tulus, “Aku minta maaf, Talitha…”
“Ini udah yang kesekian kalinya, Nick. Aku sudah capek untuk terus merasa tersudut oleh keluarga dan teman-temanmu.” Talitha menghela nafas panjang, dia terdiam. Inilah saat yang dinantikannya, kesedihan menyesakkan dadanya. Sekali lagi dia menghela nafas dengan berat. Dia tahu harus memutuskan sekarang apa yang selama ini dia tunda; dengan begitu lirih suara Talitha menyampaikan keputusannya, “Aku mau kita sampai disini saja, Nick, masa depanmu akan jauh lebih baik tanpa aku seperti kata mereka.”
“Talitha, jangan gitu dong. Aku sangat mengasihimu, kamu tahu itu. Sedikit waktu lagi, pasti bisa melunakkan hati Papaku. Aku mencintaimu, Talitha... semangatku untuk hidup.” Talitha mengamati wajah yang sangat dikasihinya, Nicholas, lelaki dengan wajah tegas dan rupawan yang sangat dikasihinya, perlindungannya, kebanggaannya, begitu sedih dan tidak berdaya, rapuh.
“Aku gak mau kamu menentang orangtuamu gara-gara aku.” Dirasakannya hatinya seperti tersayat, “betapapun rasa cintaku untukmu, dan dalamnya perasaanmu padaku.” Talitha menahan isakannya, pandangannya mulai kabur karena air mata yang mulai menggenang dimatanya siap untuk mengalir dengan deras, tapi tidak sekarang, belum. Saat ini dia harus meyakinkan Nicholas, inilah yang diinginkannya.
Talitha mengerjapkan matanya, menahan jatuhnya airmata dan menarik nafas panjang. Dia menatap wajah yang sangat dikasihinya dengan penuh kesedihan, gemetar kedua tangannya meraih tangan Nicholas dan menggenggamnya erat-erat; suaranya serak dan bergetar ketika dia berkata pelan menatap Nicholas, “Nick, dengarkan aku, aku ingin hubungan kita cukup sampai disini.” Nicholas terkesiap, matanya menatap kekasihnya dengan kepolosannya di usia belia tercengang. “Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, aku harap kita bisa saling tersenyum ramah,” Suara Talitha pelan namun terdengar mantap, tapi dadanya terasa sakit, membuatnya nyaris tidak bisa bernapas; dia memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat kepedihan yang tampak jelas pada wajah kekasihnya menambah rasa sakit yang dirasakannya sendiri.
Nicholas seperti telah kehabisan tenaga saat mendengar ucapan Talitha, dia tampak pucat, bibir terlihat bergetar saat membisikkan nama Talitha dengan lemah, “Talitha… Talitha… tolonglah…” dia tidak percaya pada apa yang sedang terjadi. Pegangannya pada tangan Talitha mengencang namun kemudian melonggar, tangannya yang hangat dan kuat kini terkulai lemas disisinya. Merasakan hal itu, Talitha segera keluar dari mobil, menutup pintu dengan cepat dan segera membuka pagar rumahnya, menghilang dari pandangan pria yang dicintainya dalam hitungan detik, dia harus menyembunyikan airmatanya dari hadapan Nicholas secepat mungkin. Tanpa mengetahui bahwa pria itu, Nicholas, untuk pertama kalinya setelah lepas dari masa kanak-kanak lebih dari dua puluh tahun yang lalu, air mata kesedihan kembali menetes dari matanya; dan dia menangis. Mengucapkan selamat tinggal pada kekasih mungilnya, cintanya, dengan airmata dalam kebisuan... ... ...